6 Film Alternatif tentang Peristiwa 1965
Oktober 20, 2017 by admin in Rubrik-Artikel 0 Comments

Akhir September lalu Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memerintahkan jajarannya dan mengimbau masyarakat untuk menyetel kembali film Pengkhianatan G-30 S/PKI. Alasannya, supaya generasi muda belajar sejarah bangsanya. Sebetulnya, film yang disponsori oleh pemerintahan Orde Baru itu bukanlah sumber tunggal untuk mengetahui lapisan-lapisan kebenaran tentang kejadian sejarah di masa 1965 dan setelahnya, lho. Pamflet punya daftar film terkait kejadian itu yang bisa kalian tonton sebagai sarana memahami sejarah. Kalau ingin tahu lebih lanjut, baca daftar film di bawah ini yuk.   Shadow Play: Indonesia’s Year of Living Dangerously (2003) Sudut pandang penyintas dan keluarga penyintas penangkapan dan pembunuhan setelah kejadian 1965 ditampilkan di Shadow Play. Termasuk seorang dokter bernama dr. Sumiyarsi, mantan tahanan politik, dan Joyo Santoso, adik kandung Ibnoe Santoro yang dieksekusi dan dibuang ke sebuah lubang di Klaten karena ikut organisasi perhimpunan sarjana. Berbeda dengan Pengkhianatan G-30 S/PKI yang berpusat pada pembunuhan jenderal yang dinilai sebagai upaya kudeta, Shadow Play memasukkan unsur geopolitik masa itu, yakni situasi perang dingin yang melibatkan blok barat dan blok timur. Negara-negara Barat seperti Amerika Serikat diduga mengetahui secara penuh adanya pembantaian massal di Indonesia setelah Gerakan 30 September 1965 pecah. Namun karena diduga memiliki kepentingan dalam kejatuhan rezim Soekarno, Amerika Serikat tidak berbicara […]

Read More
Dalam Penjara Tetap Ada Asa
Oktober 3, 2017 by Firman Suryani in Rubrik-Artikel 0 Comments

Oleh: Rosa Vania Setowati. Ada narasi yang tidak diketahui banyak orang saat membicarakan tragedi 1965. Biasanya yang ada di benak orang adalah peristiwa pembunuhan enam jenderal dan seorang perwira yang terjadi di penghujung bulan September. Tapi, banyak orang yang lupa bahwa setelah kejadian tersebut ada tragedi lebih besar yang terjadi hampir di seluruh Indonesia. Pemerintah dan militer lewat tangan-tangan warga sipil juga paramiliter menangkapi, menghilangkan, memenjarakan tanpa peradilan serta membunuh jutaan orang yang diduga berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Di sebuah sore beberapa minggu yang lalu, saya dan beberapa teman bertemu dengan penyintas 65 dan keluarga korban pelanggaran HAM lainnya. Saya berkesempatan mengobrol dengan Utati Koesalah, istri dari Koesalah Subagyo Toer. Ia adalah salah satu korban penangkapan dan pemenjaraan tanpa pengadilan yang terjadi setelah peristiwa G30S. Di usianya yang sudah menginjak 73 tahun ia terlihat masih bersemangat mengikuti pertemuan dengan para penyintas 1965/66 lain. Padahal dari rumahnya yang berada di luar Jakarta, ia harus naik kereta kemudian disambung dengan metromini. Ia menyebut diri masuk dalam kategori 3N. Waktu saya tanya apa kepanjangannya, ia menjawab “nenek-nenek nekat,” sambil tersenyum. Utati pindah dari daerah kelahirannya Purworejo dan pergi ke Jakarta karena ingin mengejar keinginannya untuk berkesenian. Jika anak muda generasi sekarang […]

Read More
Tidak Ada September Ceria di Indonesia
September 29, 2017 by admin in Rubrik-Artikel 0 Comments

Oleh: Akbar Restu Fauzi. Sebelum saya menginjakan kaki di perguruan tinggi, bulan September selalu saya asosiasikan dengan bulan penuh kecerian, sesuai lagu Vina Panduwinata yang berjudul September Ceria. Tapi setelah saya berkuliah dan membaca banyak buku, pikiran saya berubah. Meskipun saya tetap mengidolakan Mbak Vina, tapi saya tidak lagi sepakat dengan judul lagunya. Mungkin kalo judul lagu itu diubah bulannya saya masih bisa bersepakat, tapi tidak dengan bulan September. Bagaimana mungkin bulan yang banyak menjadi saksi bisu tragedi kemanusiaan bisa di anggap penuh dengan keceriaan? Berdasarkan laman masihingat.kontras.org, setidaknya ada empat tragedi kemanusiaan yang terjadi pada bulan September. Bahkan, sungguh disayangkan hingga hari ini keempat tragedi tersebut belum menemui titik terang terkait siapa dalang dibaliknya. Pertama, kasus pembunuhan Munir Said Thalib, aktivis HAM dan salah satu pendiri Kontras. Ia meninggal diracun oleh pilot Garuda Indonesia yang sedang dalam masa cuti, Pollycarpus. Kejadian itu berlangsung ketika Cak Munir dalam perjalanan pesawat menuju Amsterdam, 7 September 2004 silam. Pollycarpus memang sudah dihukum penjara, namun siapa dalang dibalik pembunuhan Cak Munir masih menjadi tanda tanya besar. Sungguh ironis apabila melihat berkas-berkas yang dikumpulkan untuk mengungkap kasus ini mangkrak begitu saja di Mahkamah Agung. Kedua, tragedi Tanjung Priok yang terjadi pada tahun 1984. Tragedi […]

Read More
5 Hal yang Nggak Boleh Dilakukan Saat Orde Baru
Juli 11, 2017 by admin in Rubrik-Artikel 0 Comments

Pernahkah kamu melihat meme Jenderal Soeharto sambil tersenyum bilang: “Piye Kabare? Masih Enak Zamanku toh?” Nah, kamu salah banget kalau mengira era Orde Baru lebih enak dibandingkan saat ini, terutama dalam kebebasan berekspresi bagi anak muda. Karena, ada banyak hal yang seru dan asik yang justru nggak boleh dilakukan anak muda di era itu. Apa saja misalnya?

Read More
Jejak Peristiwa 65 di Gua Jomblang
Februari 15, 2017 by Muhamad Amrie in Rubrik-Artikel 0 Comments

Hampir dua tahun lalu, pada 14 – 18 Agustus 2015, saya melakukan perjalanan singkat ke Yogyakarta untuk menelusuri keindahan alam di provinsi tersebut. Tadinya hanya ingin berwisata saja, tidak ada niat khusus untuk merayakan hari kemerdekaan dengan mengibarkan bendera atau kegiatan simbolis lain di suatu tempat di Jogja. Namun, sayang juga jika momen ulang tahun negeri ini tidak dirayakan dengan petualangan. Jadilah saya berangkat sendiri ke Goa Jomblang dengan motor dari pusat kota Jogja. Tahun 2014 lalu, terdapat upacara bendera di dalam Goa Jomblang yang dihadiri para pecinta alam seluruh Indonesia untuk merayakan hari kemerdekaan, jadi siapa tahu tahun ini ada kegiatan yang sama. Rute perjalanan saya pada tanggal tersebut sebenarnya tidak hanya Goa Jomblang. Saya juga mengunjungi Kebun Buah Mangunan, Air Terjun Sri Gethuk, dan Pantai Parang Tritis. Tidak saya sangka saat melakukan perjalanan dari Air Terjun Sri Gethuk ke Goa Jomblang, saya melewati rute gerilya Jendral Sudirman yang dulu dilewati oleh beliau dan kelompok tentara kecilnya selama tujuh bulan dengan jarak sekitar 100 km. Jalurnya berbukit, berkelok, dan kadang dilengkapi jalan rusak berbatu. Sesampainya di Goa Jomblang, ternyata daerah ini sudah tidak lagi seterbuka dulu di mana setiap pecinta alam dapat mengunjunginya tanpa segan. Tak ada peringatan hari […]

Read More
Mengenal ‘Yang Asing’
Februari 15, 2017 by Maulida Raviola in Rubrik-Artikel 0 Comments

Bagaimana cara sebuah kelompok pengajian Islam obscure menarik perhatian banyak musisi indie kelas kakap Ibukota? Kelompok ini tak hanya sukses membujuk mereka mengikuti pengajian tersebut, namun juga membuat banyak musisi dan figur dunia kesenian tersebut berbalik arah dan menyatakan musik haram. Meski belakangan mulai kurang terdengar gaungnya, kelompok pengajian Al Ghuroba atau The Strangers sempat jadi buah bibir 1-2 tahun terakhir – terutama setelah nama-nama kelas kakap seperti dua personil band indie The Upstairs dan vokalis band Rumahsakit hijrah ke pengajian tersebut dan menarik diri dari musik. Yang seru, Al Ghuroba tak seperti kebanyakan pengajian yang terkesan ‘keras’ denga mengerikan. Pendekatan mereka yang menggunakan simbol-simbol budaya populer dan kampanye media sosial sukses menarik perhatian anak muda. Pada 10 Juli 2015, Pamflet membuka obrolan dengan Koalisi Seni Indonesia (KSI) di kantor KSI di Pejaten, Jakarta Selatan, dan membedah lebih jauh tentang The Strangers. Pertanyaan kami, mula-mula, adalah mengapa sebuah kelompok pengajian dari aliran Islam Salafi yang biasanya cukup ‘keras’ dalam masalah akidah serta memiliki kesan non-toleran mau menggunakan musisi band yang bertobat, meme, video dan bulletin yang dikemas seperti zine alternatif untuk menyampaikan pesannya? Serta, pesan seperti apa yang sebenarnya ingin mereka sampaikan?   —- Seorang penulis kritik kebudayaan populer, Hikmat Darmawan, dan seorang pengajar serta […]

Read More
Apa Beda Pelanggaran HAM dan Tindak Pidana?
Februari 15, 2017 by admin in Rubrik-Artikel 0 Comments

  Salah satu pertanyaan yang paling sering kami dengar adalah: “Apakah pembunuhan itu termasuk pelanggaran HAM?” Pertanyaan yang sama juga berlaku untuk situasi lain, seperti perundungan (bullying), pengedaran narkoba, hingga tawuran dan pemerkosaan. Dan setiap kali pertanyaan itu muncul, jawaban kami selalu sama: Tergantung! Definisi dari pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) adalah pelanggaran terhadap kewajiban negara yang lahir dari instrumen-instrumen internasional hak asasi manusia. Pelanggaran negara terhadap kewajibannya itu dapat dilakukan baik dengan perbuatannya sendiri (acts of commission) maupun karena kelalaiannya (acts of ommission). Maka dari itu, kunci dari pelanggaran HAM adalah, harus ada kewajiban negara yang tidak terpenuhi di situ. Yang bertanggungjawab adalah Negara, bukan individu atau badan hukum lainnya. Ambil contoh pembunuhan: si A membunuh si B. Karena kasus itu terjadi antara satu individu terhadap individu lainnya, tidak ada pelanggaran HAM di situ, karena tidak ada kewajiban negara yang dilalaikan. Insiden itu termasuk tindak pidana atau tindakan kriminal, bukan pelanggaran HAM. Prinsip yang sama juga berlaku untuk tindakan individu-ke-individu lainnya seperti perundungan, kekerasan seksual, hingga merokok di tempat umum.   Tapi, semisal kasus pembunuhan B yang kita bahas di atas tidak diusut oleh aparat negara seperti kepolisian dan pengadilan karena alasan apapun – entah mereka lalai, atau misalnya pelaku ternyata teman main […]

Read More
13 Buku Buat Bacaan Akhir Pekan Senjamu
Februari 15, 2017 by admin in Rubrik-Artikel 0 Comments

Jangan habiskan akhir pekanmu dengan menggerutu soal hasil Pilkada, ikut-ikutan mendompleng tagar #SayaBertanya di Twitter, atau memanjang-manjangkan diskusi soal betapa tidak sahihnya La La Land ditahbiskan sebagai film terbaik di kuartal pertama 2017. Jangan. Sebaliknya, habiskan masa-masa kering pasca-Valentine ini dengan membaca. Iya, kegiatan ini selalu berhasil jadi solusi bagi semua punggawa Pamflet ketika kami merasa gamang memandang segala apa kehidupan. Oleh karena itu, #KamiBertanya pada para personil Pamflet: buku mana yang sangat ingin kamu rekomendasikan ke semua orang, dan kenapa?   1. Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer Pilihan Afra, fellow Pamflet “Tetralogi legendaris ini: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca bisa menginspirasi orang yang skeptis sama nasionalisme untuk mau berjuang demi bangsanya. Tapi tidak serta merta menyuarakan nasionalisme secara berlebihan, novel ini justru menceritakan perjuangan untuk kemanusiaan. Tetralogi ini ditulis pada saat Pram, penulis terbaik Indonesia yang pernah masuk nominasi Nobel Sastra, berada di penjara pulau Buru. Novel ini dilarang pada masa Orde Baru dan dituduh sebagai novel komunis – salah satu keputusan terbodoh Orde Baru. Buku ini bahkan diterbitkan dalam bahasa Inggris sebagai bagian dari Penguin Classics, sejajar dengan karya-karya sastra terbaik di seluruh dunia. Kutipan favorit di buku Anak Semua Bangsa: “Selama penderitaan datang dari manusia, dia […]

Read More
5 Pejuang HAM Selain Munir & Thukul
Februari 15, 2017 by admin in Rubrik-Artikel 0 Comments

Baru-baru ini, kisah penyair cum aktivis Wiji Thukul diangkat dalam film Istirahatlah Kata-Kata. Kisah aktivis Munir Said Thalib juga sudah pernah kami bahas secara mendalam di newsletter 10 Tahun Munir. Sikap aktivis HAM yang kritis seringkali tidak sejalan dengan agenda pemerintah. Mereka pun tidak dianggap sebagai pilar dalam demokrasi, tapi sebagai musuh keamanan nasional yang perlu disingkirkan. Nasib inilah yang menimpa Munir dan Wiji Thukul – sementara cak Munir dibunuh dalam perjalanan pesawat ke Amsterdam di tahun 2004, Wiji Thukul hilang sejak tahun 1998 dan tak diketahui nasibnya sampai sekarang. Tapi, sepanjang sejarah Indonesia, ada banyak sekali pejuang HAM yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk sesama. Dari sekian banyak pejuang itu, kami memilih lima nama yang terbilang spesial.     1. Aleta Baun     Perjuangan Mama Aleta, begitu ia biasa disapa, dimulai pada tahun 1990-an ketika Gunung Batu Anjaf dan Nausus mulai dirambah industri tambang dan kehutanan. Bagi Mama Aleta, jika hutan dan batu ditambang, mata air akan hilang. Sementara, mereka menggantungkan hidup dari mata air untuk mengairi pertanian dan hutan untuk sumber pangan. Perjuangan Mama Aleta dan Masyarakat Adat Mollo selama 11 tahun mulai membuahkan hasil pada 2007, dengan dihentikannya operasi tambang di daerah tersebut. Perusakan tanah hutan yang sakral di Gunung Mutis, […]

Read More
8 Pahlawan ‘Alternatif’ Pilihan Pamflet
Februari 14, 2017 by admin in Rubrik-Artikel 0 Comments

Indonesia punya sejarah panjang yang penuh cerita seru, inspiratif, sekaligus bikin geleng-geleng kepala. Dan selain pahlawan-pahlawan nasional yang lebih mainstream seperti Bung Karno dan Bung Hatta, ada segudang pahlawan ‘alternatif’ yang juga bisa kita banggakan. Para pendiri bangsa yang kami pilih adalah pemikir terkemuka yang pantas mendapat perhatian lebih dalam sejarah Indonesia, dan cakep dijadikan teladan saat ini. Apalagi mengingat kebanyakan pemimpin kita sekarang ini berimajinasi sempit, sibuk nongkrong dengan gerakan yang diskriminatif, atau sibuk curhat di media sosial. Jadi, siapa saja yang jadi pilihan Pamflet?   1. S.K Trimurti     Pilihan Maulida Raviola, koordinator umum Pamflet “Salah satu pahlawan favorit gue adalah Surastri Karma Trimurti. Sebelum kemerdekaan, dia sering menyebarkan pamflet yang berisi pemikiran anti-kolonialisme yang membuat dia dipenjara Belanda. Walaupun ditangkap dan disiksa, dia tidak pernah berhenti menulis di banyak media. Setelah kemerdekaan, dia jadi Menteri Tenaga Kerja pertama di Indonesia, tapi tetap aktif juga di partai buruh dan bahkan mendirikan Gerwis (cikal bakal Gerwani). Karena propaganda Orde Baru, organisasi ini dianggap organisasi perempuan-perempuan subversif. Padahal, organisasi ini aktif banget turun ke akar rumput dan memperjuangkan kepentingan rakyat.   2. Tan Malaka Pilihan Afra, koordinator umum Pamflet periode 2013-2015. “Tan tidak banyak tampil. Tapi, konsepnya justru paling mendekati ide tentang keadilan sosial […]

Read More

70-243  , 000-105  , CISM   c2010-657   PMP   300-206  , 640-692   300-115   400-201   C_TFIN52_66   1z0-808   300-115   210-060   70-463   70-412   300-320   220-902   1Z0-060   350-080   9L0-066   350-080   000-089   CCA-500   210-060   642-732   300-115   3002   70-487   JK0-022   M70-101   350-060   HP0-S42   1Z0-051   642-732   810-403   1z0-434   70-410   350-080  , 102-400   220-902   JN0-102   000-106   70-480   SSCP   1Z0-051  , MB2-704   200-120   70-532   LX0-103   400-101   220-802   70-410  , 300-206   300-208   000-104   70-534  , 70-980  , 350-018   640-916   70-488   200-310   200-125  , 70-462   300-070   70-534   70-980   JK0-022   C_TFIN52_66   2V0-621   220-901  , 200-125  , 1Z0-061   70-532  , 70-347   CRISC   000-017   350-030   PMP  , JN0-102   70-413  , 70-461   3002   EX200  , 100-101   300-208  ,

Back to Top