5 Hal yang Nggak Boleh Dilakukan Saat Orde Baru

Juli 11, 2017 by admin in Rubrik Artikel
5 Hal yang Nggak Boleh Dilakukan Saat Orde Baru

Pernahkah kamu melihat meme Jenderal Soeharto sambil tersenyum bilang: “Piye Kabare? Masih Enak Zamanku toh?” Nah, kamu salah banget kalau mengira era Orde Baru lebih enak dibandingkan saat ini, terutama dalam kebebasan berekspresi bagi anak muda. Karena, ada banyak hal yang seru dan asik yang justru nggak boleh dilakukan anak muda di era itu. Apa saja misalnya?

Nggak Boleh Gondrong!

Budaya hippies yang lahir pada era 1960-an membawa pengaruh yang tidak sedikit ke Indonesia. Banyak anak muda kala itu yang berusaha meniru perilaku dengan menggunakan simbol-simbol dari budaya hippies, seperti berambut gondrong atau menggunakan busana longgar dengan warna-warna yang mencolok. Melihat tren tersebut, pemerintah kemudian menganggap rambut gondrong bertentangan dengan kepribadian nasional. Akhirnya, dilakukan razia hingga denda pada anak muda yang berambut gondrong. Bahkan, saking paranoidnya dengan rambut gondrong, pemerintah membentuk Bakoperagon (Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong)!

Kegiatan Mahasiswa Dibatasi

Pada 1978, pemerintah menetapkan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan atau yang lebih dikenal dengan NKK/BKK. Melalui NKK/BKK, pemerintah Orde Baru mengarahkan mahasiswa hanya pada kegiatan akademik dan menjauhkan mereka dari aktivitas politik karena dinilai dapat membahayakan posisi Orba. Tak cukup sampai di situ, pemerintah juga memberi keleluasaan Rektorat untuk menentukan kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa.

Cuma Boleh Baca Buku Tertentu

Tahukah kamu bahwa selama 32 tahun berkuasa, rezim Orde Baru telah melarang lebih dari 2.000 judul buku! Larangan ini banyak terjadi pada buku-buku bertema gerakan kiri. Novel tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, yang bercerita tentang sejarah awal pergerakan nasional dan pers di Indonesia, juga turut dilarang. Ada banyak juga buku-buku dan publikasi lainnya yang dilarang oleh pemerintah Orde Baru karena dianggap ‘mengancam ketertiban umum’.

Kritis sama Pemerintah

Bersikap kritis sama kebijakan pemerintah di era Orde Baru bakal bikin kita berhadapan langsung sama aparat, tak hanya itu kita juga bisa tiba-tiba diculik dan dihilangkan paksa seperti yang terjadi pada Wiji Thukul atau aktivis lain.

Tatoan? Awas Ditembak!

Pada periode tahun 1981-1985 diadakan operasi pembasmian gali (gabungan anak liar) atau preman. Operasi ini menyasar para preman yang saat itu dengan cara menembak mati dan membiarkan mayatnya sampai ditemukan warga, agar menimbulkan efek jera. Operasi ini juga menyasar orang bertato karena dianggap identik dengan preman, sehingga banyak dari mereka yang bersembunyi hingga menghapus tato yang mereka miliki.

Mau tahu lebih banyak tentang apa-apa saja yang dilarang di era Orde Baru? Kamu bisa baca lebih banyak di bab “Beda Itu (Tidak) Biasa” di buku Yang Kelewat di Buku Sejarah, di sini.

Leave a Comment!

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

70-243  , 000-105  , CISM   c2010-657   PMP   300-206  , 640-692   300-115   400-201   C_TFIN52_66   1z0-808   300-115   210-060   70-463   70-412   300-320   220-902   1Z0-060   350-080   9L0-066   350-080   000-089   CCA-500   210-060   642-732   300-115   3002   70-487   JK0-022   M70-101   350-060   HP0-S42   1Z0-051   642-732   810-403   1z0-434   70-410   350-080  , 102-400   220-902   JN0-102   000-106   70-480   SSCP   1Z0-051  , MB2-704   200-120   70-532   LX0-103   400-101   220-802   70-410  , 300-206   300-208   000-104   70-534  , 70-980  , 350-018   640-916   70-488   200-310   200-125  , 70-462   300-070   70-534   70-980   JK0-022   C_TFIN52_66   2V0-621   220-901  , 200-125  , 1Z0-061   70-532  , 70-347   CRISC   000-017   350-030   PMP  , JN0-102   70-413  , 70-461   3002   EX200  , 100-101   300-208  ,

Back to Top