Beragam Cara Memaknai ‘Sumpah Pemuda’

Oktober 29, 2017 by admin in Rubrik Artikel
Beragam Cara Memaknai ‘Sumpah Pemuda’

89 tahun lalu, pemuda dari berbagai daerah berkumpul untuk mengikuti Kongres Pemuda II yang menghasilkan putusan kongres, bukan Sumpah Pemuda yang selama ini kita kenal. Kata Sumpah Pemuda justru muncul pertama kali 29 tahun setelah Kongres Pemuda II dilaksanakan. Saat itu, Soekarno melaksanakan peringatan Sumpah Pemuda dalam skala yang cukup besar. Sumpah Pemuda kemudian dimanfaatkan menjadi alat kampanye Soekarno untuk meredam berbagai pemberontakan di daerah.

sumpah pemuda2

Melihat Sumpah Pemuda mampu menimbulkan semangat persatuan dan kesatuan, kampanye Sumpah Pemuda dilanjutkan pada tahun 1961 dalam perjuangan merebut Irian Barat. Lalu tahun 1963, Sumpah Pemuda adalah pengingat bahwa perjuangan melawan rencana membentuk Federasi Malaysia. Sumpah Pemuda juga digunakan untuk menangkal simbol-simbol budaya Barat yang popular tahun 1959 yang dianggap bakal merusak budaya Indonesia. Intinya, Soekarno memanfaatkan dengan sangat baik tiga poin dalam Kongres Pemuda II, yaitu bertanah air, berbangsa, berbahasa satu: Indonesia, untuk menimbulkan semangat persatuan dan meredam pemberontakan di daerah-daerah.

Sumpah pemuda1

Semasa presiden Soeharto, mempunyai cara sendiri untuk memaknai Sumpa Pemuda, melanjutkan sebutan Sumpah Pemuda namun dengan semangat dan tujuan yang berbeda. Soeharto memanfaatkan Sumpah Pemuda untuk mendukung pemerintahannya yang mengutamakan disiplin, stabilitas, dan keamanan. Alhasil, pendekatan kekerasan digunakan pada siapa saja yang coba mencari arti lain dari ‘persatuan dan kesatuan’. Pada era ini juga, banyak dilakukan kajian terkait sejarah Sumpah Pemuda, salah satunya adalah karya B. Soelarto, Dari Kongres Pemuda Pertama ke Sumpah Pemuda (1986), yang berisi kumpulan peristiwa sejarah antara kongres pertama (1926) dan kongres kedua (1928).

Kini, setelah Soeharto jatuh, Sumpah Pemuda diarahkan untuk menghargai berbagai perbedaan yang ada di Indonesia. Terutama karena setelah jatuhnya Soeharto, terdapat kerusuhan antar entis di beberapa daerah. Selain itu, perdebatan tentang perlu tidaknya Sumpah Pemuda dirayakan juga mulai muncul, terutama di media sosial. Kebebasan dalam mencari informasi membuat setiap orang bebas memaknai Sumpah Pemuda, tanpa harus dicekoki lebih dulu oleh pemerintah.

Nah, kalo kamu sendiri, bagaimana memaknainya?

Leave a Comment!

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

70-243  , 000-105  , CISM   c2010-657   PMP   300-206  , 640-692   300-115   400-201   C_TFIN52_66   1z0-808   300-115   210-060   70-463   70-412   300-320   220-902   1Z0-060   350-080   9L0-066   350-080   000-089   CCA-500   210-060   642-732   300-115   3002   70-487   JK0-022   M70-101   350-060   HP0-S42   1Z0-051   642-732   810-403   1z0-434   70-410   350-080  , 102-400   220-902   JN0-102   000-106   70-480   SSCP   1Z0-051  , MB2-704   200-120   70-532   LX0-103   400-101   220-802   70-410  , 300-206   300-208   000-104   70-534  , 70-980  , 350-018   640-916   70-488   200-310   200-125  , 70-462   300-070   70-534   70-980   JK0-022   C_TFIN52_66   2V0-621   220-901  , 200-125  , 1Z0-061   70-532  , 70-347   CRISC   000-017   350-030   PMP  , JN0-102   70-413  , 70-461   3002   EX200  , 100-101   300-208  ,

Back to Top