Imlek di Indonesia

Februari 16, 2018 by admin in Rubrik Artikel
Imlek di Indonesia

Siapa saja yang merayakan Imlek? Tahu gak, sih, kalau Imlek dulu pernah dilarang di Indonesia? Masa, sih? Jadi gini begini ceritanya. Pada masa pemerintahan Soeharto dikeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) No.14 tahun 1967 yang berisi larangan berbagai yang berkaitan dengan masyarakat Tionghoa, termasuk perayaan Imlek. Hal ini berlangsung selama 1968-1999. Atau dengan kata lain, selama 31 tahun warga negara Indonesia yang keturunan Tionghoa tidak boleh merayakan Imlek. Uwow!

Nah, kemudian pada tahun 2000 Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres tersebut. Ia juga mengeluarkan Keputusan Presiden No.19/2001 meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif, yang artinya hanya berlaku bagi yang merayakan. Lalu, pada tahun 2002 Presiden Megawati menetapkan mulai 2003 Imlek menjadi hari libur nasional. Yeah! Eits, tapi ini bukan sekadar persoalan hari libur dan bisa nonton barongsai yah. Ini berkaitan banget dengan pembatasan kebebasan berekspresi di Indonesia. Coba kita berandai-andai dengan bertukar posisi, misalkan Idul Fitri dilarang dirayakan di Indonesia, coba gimana, tuh? Marah, sedih dan terpinggirkan, kan?

Sebenarnya gak cuma larangan Imlek saja, namun perayaan-perayaan kebudayan Tionghoa lainnya juga dilarang, sehingga kebudayaan tersebut perlahan-lahan terpinggirkan dan luntur. Selain itu, penggunaan istilah ‘Tionghoa’ juga dilarang. Jadi, dari tahun 1968-1999 orang yang punya nama Tionghoa harus punya nama Indonesia. Lalu proses pembuatan KTP pun pada masa itu cukup sulit bagi orang Tionghoa. Ah, sekarang saja masih berbelit-belit dan banyak pungli, apa lagi jaman dulu. Diskriminatif. Untungnya, saat ini kondisi tersebut berubah menjadi lebih baik.

Indonesia, kan, negara yang beragam, mulai dari suku bangsa asli yang berbagai macam sampai dengan keturunan bangsa-bangsa asing yang beragam. Tindakan yang diambil oleh Presiden Abdurrahman Wahid saat itu merupakan tindakan yang cemerlang untuk keberagaman di Indonesia. Untuk apa, sih, mendiskriminasikan etnis tertentu kalau sebenarnya ada pilihan bisa berteman dan hidup berdampingan? Momen Imlek bisa dijadikan waktu untuk jalan-jalan, loh. Seperti ke Semarang, Solo, Singkawang, dan Medan. Daerah-daerah tersebut mempunyai festival-festival terkait perayaan Imlek. Menarik, kaya akan budaya dan pastinya seru. Semoga tahun yang baru ini membawa kedamaian bagi kita semua. Gong Xi Fat Chai!

Leave a Comment!

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

70-243  , 000-105  , CISM   c2010-657   PMP   300-206  , 640-692   300-115   400-201   C_TFIN52_66   1z0-808   300-115   210-060   70-463   70-412   300-320   220-902   1Z0-060   350-080   9L0-066   350-080   000-089   CCA-500   210-060   642-732   300-115   3002   70-487   JK0-022   M70-101   350-060   HP0-S42   1Z0-051   642-732   810-403   1z0-434   70-410   350-080  , 102-400   220-902   JN0-102   000-106   70-480   SSCP   1Z0-051  , MB2-704   200-120   70-532   LX0-103   400-101   220-802   70-410  , 300-206   300-208   000-104   70-534  , 70-980  , 350-018   640-916   70-488   200-310   200-125  , 70-462   300-070   70-534   70-980   JK0-022   C_TFIN52_66   2V0-621   220-901  , 200-125  , 1Z0-061   70-532  , 70-347   CRISC   000-017   350-030   PMP  , JN0-102   70-413  , 70-461   3002   EX200  , 100-101   300-208  ,

Back to Top