Kartini dan Ide-ide Perlawanannya

Kartini dan Perlawanannya
© Pamflet Generasi / Muhammad Rizki

Siapa yang tidak kenal dengan Raden Ajeng Kartini. Sejak duduk di sekolah dasar, kita semua telah dikenalkan dengan sosok pahlawan nasional ini atas perannya mendukung pendidikan bagi perempuan. Pasti kita semua masih ingat judul buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang terus menerus diceritakan guru-guru kita di sekolah dulu.

21 April: Hanya Seremonial Belaka

Tanggal kelahirannya ditetapkan menjadi hari Hari Kartini oleh Soekarno pada tahun 1964. Hari ini dijadikan momen untuk memperingati ide-ide emansipasi dan perlawanan Kartini yang bisa kita pahami lewat surat-suratnya semasa hidup dulu. Sayangnya, perayaan yang diadakan di sekolah, tempat kerja, RT/RW seringkali tidak mencerminkan tujuan awal peringatan itu sendiri.

Pada hari Kartini, kita biasanya melakukan berbagai macam perlombaan seperti lomba memasak, peragaan busana kebaya, lomba merias diri, dan sebagainya. Bahkan beberapa produk kecantikan sering mengadakan diskon untuk merayakan hari lahir Kartini.

Apabila kita telaah kembali, sebenarnya bentuk perayaan Hari Kartini seringkali justru berlawanan dengan pesan perlawanan dalam surat-surat Kartini. Dengan berlomba mengenakan kebaya dan merias wajah, kita malah semakin memperkuat imaji perempuan sebagai sosok cantik dan menawan yang harus mengikuti aturan berpakaian tradisional.

Salah kaprah perayaan ini sebenarnya bukan tanpa sebab. Awal mula perayaan Hari Kartini menjadi ajang kecantikan sebenarnya dipelopori oleh pemerintahan Orde Baru. Pada masa Soeharto, Kartini dijadikan sebagai sosok yang memperkuat ibu-isme, yaitu cara pandang yang menekankan peran perempuan sebagai istri dan ibu. Karena itulah Kartini selalu kita panggil ‘Ibu Kartini’ termasuk dalam lagu nasional yang menyebut dia sebagai putri sejati.

Surat-surat Kartini

Semasa hidupnya, Kartini memiliki banyak teman bertukar ide. Salah satu di antaranya adalah J.H. Abendanon, seorang liberal asal Belanda yang menjabat sebagai Direktur Departemen Pendidikan Hindia Belanda. Abendanon memiliki ide untuk mempromosikan pendidikan bagi perempuan. Ia pulalah yang menerbitkan beberapa surat Kartini dalam buku Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Kartini juga sangat dekat dengan Ms Ovink Soer, seorang feminis dan sosialis yang mengajarkan Kartini pemikiran-pemikiran radikal yang saat itu sedang berkembang di Belanda. Ia juga memiliki seorang teman pena, Stella Zeehandelaar yang juga seorang feminis dan sosialis. Kartini juga berkorespondensi dengan editor dari De Hollandche Leile, majalah perempuan sosialis Belanda.

Dari berbagai surat yang dikirimkan Kartini kepada teman-temannya, terdapat beberapa ide mengenai emansipasi yang penting untuk selalu kita bahas. Banyak di antaranya bahkan masih begitu relevan dalam perjuangan perempuan di Indonesia saat ini.

Dalam suratnya kepada Stella, Kartini menuliskan bagaimana dirinya begitu membenci ide bahwa perempuan Islam Jawa harus selalu bergantung kepada orang lain melalui ikatan perkawinan.

“Saya berkehendak bebas supaya saya boleh dapat berdiri sendiri, jangan bergantung kepada orang lain, supaya jangan… jangan sekali-kali dipaksa kawin.

Tetapi kawin, kami mesti kawin, mesti, mesti! Tiada bersuami adalah dosa yang sebesar-besar dosa yang mungkin diperbuat seorang perempuan Islam, malu yang sebesar-besar malu yang mungkin tercoreng di muka seorang anak gadis Bumiputra dan keluarganya.

Dan kawin di sini, aduh, dinamakan azab sengsara masih terlalu halus! Betapa nikah itu tiada akan sengsara, kalau hak semuanya bagi keperluan laki-laki saja dan tiada sedikit jua pun bagi perempuan? kalau hak dan pengajaran kedua-duanya bagi laki-laki semata-mata kalau semua-muanya dibolehkan dia perbuat?

Cinta, apakah yang kami ketahui tentang perkara cinta itu? Betapa kami akan mungkin sayang akan seorang laki-laki dan seorang laki-laki kasih akan kami, kalau kami tiada berkenalan, bahkan yang seorang tiada boleh melihat yang lain? Anak gadis dan anak muda dipisahkan benar-benar…”

 

(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 6 November 1899. Terjemahan Armijn Pane)

 

Dalam penggalan surat yang sama, Kartini juga mengkritik budaya poligami yang dibenarkan oleh ajaran Islam.

 

“Meskipun seribu kali orang mengatakan, beristri empat itu bukan dosa menurut hukum Islam, tetapi aku, tetap selama-lamanya aku mengatakan itu dosa. Segala perbuatan yang menyakitkan sesamanya, dosalah pada mataku. Betapakah azab sengsara yang harus diderita seorang perempuan, bila lakinya pulang ke rumah membawa perempuan lain, dan perempuan itu harus diakuinya perempuan lakinya yang sah, harus diterimanya jadi saingannya? Boleh disiksanya, disakitinya perempuan itu selama hidupnya sepuas hatinya, tetapi bila ia tiada hendak membebaskan perempuan itu kembali, bolehlah perempuan itu menangis setinggi langit meminta hak, tiada juga akan dapat.”

 

Selain mengutarakan banyak kritikan terhadap ajaran Islam dan budaya dan adat Jawa, Kartini juga memiliki banyak kritik terhadap pemerintahan kolonial. Pada masa itu, Belanda belum menjalankan politik etis yang mewajibkan pemberian pendidikan bagi masyarakat koloni. Dalam suratnya, Kartini mempertanyakan mengapa orang Eropa tidak memberikan pendidikan kepada orang Jawa.

“Orang Eropa makan hati melihat beberapa rupa sifat orang Jawa, misalnya sifat pelalai, malas, dan sebagainya. Kalau benar hal itu mengesalkan hati orang Belanda, mengapakah tiada berbuat suatu apa juga pun akan menghilangkan sifat buruk itu? Mengapa tiada tuan ulurkan tangan tuan akan membangkitkan saudaranya si kulit hitam itu? Percayalah semua sifat buruk itu dapat juga dilenyapkan. Buangkanlah selubung otaknya yang tebal itu, bukalah matanya, maka akan engkau lihat nanti, adakah lagi padanya sifat-sifat yang lain daripada nafsu berbuat jahat, yaitu nafsu yang terbit oleh karena kebodohan dan kurang pengetahuan. Terlalu banyak contoh, tiada usah jauh-jauh kucari, kau pun tiada usah mencarinya, Stella. Ini di hadapanmu terurai pikiran orang yang masuk golongan bangsa kulit hitam yang dihinakan itu. Alangkah pandainya mereka itu berbuat pertimbangan tentang kami? Kenalkah mereka akan kami?

           Tidak; sama saja seperti kami pun tiada mengenal mereka!…

Sekarang tahulah aku, mengapa orang Belanda tiada suka, kami orang Jawa maju. Apabila si Jawa itu telah berpengetahuan tiadalah ia hendak mengia dan mengamin saja lagi, akan barang sesuatu yang dikatakan dipikulkan kepadanya oleh orang yang di atasnya.”

(Surat kepada Stella Zeehandelaar, 12 Januari 1900. Terjemahan Armijn Pane)

Dalam surat ini, Kartini menggunakan kata “kami” untuk menjelaskan orang Jawa atau ‘si kulit hitam.’ Kartini telah memiliki bayangan sebuah komunitas (imagined community) dengan identitas sendiri. Ia juga mengkritik orang Eropa yang tidak bisa mengerti masyarakat Jawa dan memandang dengan cara yang begitu merendahkan. Dalam penggalan surat yang sama, ia menunjukkan konyolnya orang Eropa yang haus akan hormat dari rakyat.

“Sungguhlah, orang Eropa itu menjadikan dirinya tertawaan kami saja; dia menghendaki kami berbuat hormat kepada mereka, seperti kami diwajibkan oleh adat kami memberi hormat kepada kami orang Bumiputra. Resident dan assisten resident menyebutkan dirinya “kanjeng” sudah sepatutnyalah itu, tetapi opseter kebun, pegawai kebun lainnya dan besok lusa boleh jadi juga sep stasiun, menyuruh bujangnya memanggilnya “kanjeng”: yang demikian itu sebenar-benarnyalah gilalah Namanya itu. Tahukan mereka itu, apakah artinya kanjeng? Siduruhnya orang di bawahnya menghormati dia dengan cara yang hanya dilakukan orang-orang itu kepada kepalanya sendiri. Aduh, aduh, sangkaku hanya si “Jawa” bodoh itu saja yang ingin diajung-ajungkan, tetapi sekarang tahulah aku bahwa orang Barat, yang beradab dan ada berpelajaran itu pun tak segan dianjung-anjungkan, bahkan gila akan anjungan itu.”

 

Selain itu, Kartini juga memberikan kritik terhadap sistem pemerintahan kolonial Belanda saat itu yang menerapkan pajak tanpa memperhatikan keadaan masyarakat. Ia meyakini, sistem pajak merupakan salah satu faktor yang melanggengkan kemiskinan di Jawa. Lebih jauh lagi, Kartini juga menyampaikan bahwa pemerintah kolonial tidak peduli dengan kondisi masyarakat yang menjadi penuh kekacauan akibat candu (opium), selama produk ini menghasilkan kekayaan besar bagi Belanda melalui pajak opium.

Dalam Feminism and Nationalism in the Third World, Kumari Jayawardena menjelaskan bahwa terdapat tiga hal yang umum ditemukan dari gerakan perempuan di negara-negara ketiga, yaitu keinginan untuk melakukan reformasi internal untuk memajukan peradaban masyarakat, penghapusan aturan-aturan dari struktur pra-kapitalis, seperti sistem dinasti/kerajaan dan ortodoksi agama, serta penekanan identitas nasional yang bisa menjadi basis untuk menggerakkan masyarakat melawan imperialisme. Dari beberapa surat Kartini di atas, kita dapat melihat ketiga hal ini dalam bayangan perlawanan Kartini. Ia mendambakan perubahan dalam masyarakat kolonial yang hanya dapat terwujud melalui pendidikan, terutama bagi perempuan, sekaligus menunjukkan keinginan untuk melawan kolonialisme Belanda.

Penggalan Surat Lainnya

Dalam pelajaran Ilmu Sejarah di sekolah, kita biasanya hanya dikenalkan pada buku Habis Gelap, Terbitlah Terang sebagai satu-satunya referensi mengenai ide Kartini. Padahal, seperti ditulis oleh Magdalene, buku ini adalah kumpulan dari sebagian surat-surat Kartini saja, itu pun telah melalui proses penyuntingan oleh Abendanon. Menurut Joost J. Coté, buku ini telah melalui penyuntingan terutama di bagian-bagian yang menunjukkan sikap agresif Kartini melawan tradisi Islam. Meskipun demikian, kita masih tetap bisa menelaah banyak ide perlawanan Kartini melalui buku ini. Tradisi merayakan Hari Kartini yang masih melanggengkan ibu-isme Orde Baru membuat kita bahkan tidak membahas ide Kartini sama sekali. 

 

 

Referensi

Devi Asmarani, “Kartini, Nasionalis yang Terlupakan,” Magdalene.co, 23 April 2018, dapat diakses melalui https://magdalene.co/story/kartini-nasionalis-yang-terlupakan.
R.A. Kartini, “Habis Gelap Terbitlah Terang,” diterjemahkan oleh Armijn Pane, Balai Pustaka, Jakarta :2009
Kumari Jayawardena, “Feminism and Nationalism in the Third World,” Verso, London: 2016.

Editor: Fian Kurniawan

Share This
Scroll to Top
5 Inklusif

Tetap Terhubung!

Berlangganan Nawala Kami untuk mendapatkan kabar dan informasi terbaru.