Stop Following Beauty Standard! You’re Beautiful Just The Way You Are

Cover_Stop Following Beauty Standard! You’re Beautiful Just The Way You Are

Sudah pada nonton film Imperfect belum nih? Film yang dirilis menjelang pergantian tahun 2020 ini diangkat dari sebuah buku dengan judul yang sama karya Meira Anastasia. Film ini memiliki cerita yang sarat makna namun mampu dikemas dengan ringan dan menghibur. Ada kritik kuat yang coba disampaikan melalui film ini, yaitu mengenai konstruksi budaya patriarki yang mempengaruhi pandangan umum mengenai tubuh perempuan, khususnya perihal standar kecantikan. 

Tokoh Rara yang digambarkan memiliki kulit gelap dan bobot tubuh di atas rata-rata kerap kali dibandingkan dengan adiknya oleh ibunya, karena adiknya memiliki kulit lebih terang dan langsing. Di kantor tempat Rara bekerja juga dirinya sering mengalami beragam bentuk body shaming dari teman sekantornya, misalnya diejek seperti ibu hamil dan tidak diizinkan untuk bergabung untuk makan bersama di jam istirahat kantor. Selain itu bos di kantor Rara juga mengatakan bahwa Rara bisa saja menempati posisi yang lebih tinggi asalkan dia cantik dan langsing, karena kemampuan otak saja tidak cukup. Parahnya, teman Ibu Rara yang merupakan sesama perempuan ikut menghakimi fisik Rara dengan mengatakan jika Rara tidak cantik.

Cerita tentang bagaimana lingkungan terdekat Rara menghakimi fisik Rara merupakan bentuk nyata telah mengakarnya budaya patriarki di masyarakat. Budaya patriarki selalu menempatkan perempuan sebagai individu yang powerless dan nomor dua. Perempuan juga hanya dianggap sebagai support actor yang hanya memiliki peran domestik sementara laki-laki lebih bebas untuk mengambil peran-peran vital di masyarakat. Kemudian perempuan juga selalu dianggap sebagai objek dalam budaya patriarki ini. Laki-laki memiliki otoritas lebih dalam membentuk pandangan mengenai citra terkait perempuan, termasuk citra kecantikan perempuan. Dalam studi feminisme, hal ini lazim disebut male gaze. 

Lebih lanjut nih Gengs, male gaze mendorong politik seksual atas hasrat dan kesenangan dari laki-laki. Dengan menempatkan posisi perempuan sebagai objek, perempuan seolah tidak memiliki otoritas atas perasaannya, pemikirannya, tubuhnya, dan seksualitasnya. Dalam hal ini, citra kecantikan perempuan dituntut untuk selalu sejalan dengan keinginan laki-laki. Anggapan dari laki-laki bahwa perempuan cantik itu putih, langsing, berambut panjang terurai, atau memiliki kaki yang jenjang sudah sepatutnya dipatahkan. Perempuan dengan keunikan fisiknya masing-masing memiliki nilai kecantikan yang sama.

Adegan saat teman-teman Ibu Rara menghakimi Rara dengan mengatakan bahwa Rara tidak cantik adalah bentuk nyata male gaze yang ternyata kerap kali dilakukan oleh sesama perempuan. Perempuan yang merasa dirinya “cantik” sebagaimana pandangan umum laki-laki seringkali menghakimi perempuan lain yang percaya diri dan nyaman dengan keunikan dirinya sendiri. Hal ini karena ada keresahan dalam diri mereka jika ternyata ada konstruksi lawas yang ingin coba dipatahkan. Mereka merasa bahwa perempuan lain juga harus mengikuti standar kecantikan yang sudah ada dan terbentuk sejak lama. Padahal sebagai sesama perempuan, penting untuk saling mendukung satu sama lain atas keputusan yang diambil bagi tubuhnya sendiri dalam melawan konstruksi sosial yang sudah ada.

Selain itu, keberadaan beauty standard yang dipromosikan lewat media dan industri saat ini turut berpengaruh pada maraknya perilaku body shaming di tengah masyarakat. Media yang lebih mudah memberikan panggung kepada perempuan yang memenuhi standar kecantikan juga industri yang menuntut perempuan untuk mengikuti standar kecantikan sebagaimana persepsi kecantikan menurut male gaze.  Hal ini membuat masyarakat terpengaruh dalam menilai fisik seorang perempuan. Maraknya perilaku body shaming dipicu karena pikiran masyarakat mengenai kecantikan ideal yang melekat pada fisik seorang perempuan menjadi sempit. Sehingga saat tubuh seorang perempuan dianggap tidak sesuai dengan pandangan male gaze, perempuan tersebut menerima penilaian buruk atas tubuhnya.

Dalam film Imperfect ditunjukan bentuk body shaming yang halus. Adegan basa-basi teman kantor Rara yang menilai Rara seperti Ibu hamil adalah bentuk body shaming yang sering dilakukan. Secara tidak sadar kita juga sering melontarkan basa-basi atau candaan yang menyinggung fisik dan justru mengarah ke body shaming. Hal paling lazim diungkapkan dalam sebuah pertemuan misalnya, “wah, gendutan ya sekarang” atau “kok kurusan sih?” Maksud dari kalimat-kalimat tersebut mungkin bukan untuk merendahkan fisik seseorang, melainkan untuk membuka obrolan. Namun, kelaziman ini sebetulnya tidak sopan dan justru bisa membuat kepercayaan diri seseorang menurun. Bahkan tidak sedikit juga yang pada akhirnya menjadi depresi karena perkataan semacam itu. Padahal ada bentuk basa-basi yang lebih sopan untuk membuka obrolan, misalnya basa-basi paling lazim adalah mengomentari mengenai cuaca di hari itu, atau bisa juga dengan menanyakan kabar orang yang bersangkutan.

Nah, pada akhirnya kita sadar bahwa keberadaan beauty standard itu sebenarnya membelenggu kebebasan perempuan untuk menjadi dirinya sendiri secara utuh. Sebagaimana pesan di akhir film ini yang coba menyampaikan jika dalam setiap diri perempuan ada kecantikan yang bernilai sama dengan perempuan lain meskipun bentuk kecantikan itu berbeda. Perempuan tetap akan cantik meski kulitnya gelap. Perempuan tetap akan cantik meski tubuhnya gemuk. Perempuan akan tetap cantik meski rambutnya ikal. Perempuan akan tetap cantik meski wajahnya tidak mulus dan glowing. Perempuan akan tetap cantik saat dirinya percaya diri dengan tubuhnya.

 

Referensi:

Janice Loreck, “Explainer : What Does The ‘Male Gaze’ Mean, and What About A Female Gaze?”, The Conversation. Diakses pada 14 Januari 2020, melalui https://theconversation.com/explainer-what-does-the-male-gaze-mean-and-what-about-a-female-gaze-52486

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lain

Skip to content