[Banyak Tahu] Sejarah Kata Waria

Sejarah Kata Waria Kalian tahu gak, sejak kapan kata “waria” mulai digunakan di Indonesia? Ternyata kata ‘waria’ mulai digunakan sejak tahun 1978 di Indonesia. Awal mulanya adalah pendirian organsasi bernama Himpunan Wadam Djakarta (Hiwad) di tahun 1969. Pada saat itu, pendirian organisasi ini difasilitasi oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Wadam yang berarti “wanita Adam” digunakan sebagai istilah pengganti kata “banci” atau “bencong” yang dirasa bersifat menghina. Namun, muncul beberapa penolakan dari kelompok agama yang menilai bahwa istilah tersebut kurang patut karena menggunakan nama seorang nabi, yaitu Adam. Akhirnya, muncullah istilah “waria” singkatan dari “wanita pria,” menggantikan istilah sebelumnya. Selain pendiriannya difasilitasi oleh gubernur, Hiwad juga mendapatkan banyak dukungan dari pemerintah melalui Departemen Sosial. Namun, pemberian bantuan ini masih dilakukan dalam kacamata yang melihat waria sebagai golongan yang kurang mampu atau cacat psikologis. Setelah Hiwad, organisasi sejenisnya pun mulai bermunculan di kota-kota selain Jakarta. Tujuan kerja organisasi ini adalah untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa waria adalah kelompok yang memiliki fungsi dalam masyarakat. Melalui organisasi ini, waria diberi dukungan moral dan dibantu mendapatkan mata pencaharian. Di Indonesia, kata ‘waria’ lumrah digunakan dan kerap disamakan dengan kata ‘transjender’. Tapi pemberian arti kata waria sudah sangat banyak didiskusikan, lho. Tom Boesllstorff, seorang profesor […]

Read More
Perempuan dan Segitiga Kekerasan
Maret 23, 2020 by admin in HAM, Rubrik-Artikel 0 Comments

Pada 6 Maret 2020 lalu, Komnas Perempuan mengeluarkan Catatan Tahunan Kekerasan Terhadap Perempuan. Dari catatan tersebut, Komnas Perempuan menunjukkan angka kekerasan seksual terhadap perempuan yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Angka tertinggi adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang mencapai angka 11.105 kasus atau sebanyak 75%, lalu disusul kekerasan di ranah publik sebanyak 3.602 atau 24%. Bentuk kekerasan dalam rumah tangga yang paling sering terjadi adalah kekerasan fisik, disusul kekerasan seksual, psikis dan ekonomi. Sementara di ranah publik, bentuk kekerasan yang paling sering dialami perempuan adalah pencabulan, pemerkosaan, dan pelecehan seksual. Belakangan ini, kita mendapati semakin banyak pemberitaan mengenai kasus kekerasan seksual. Kasus-kasus ini datang dari berbagai sektor, dari lingkungan universitas, sekolah, industri, kelompok seniman, bahkan dari komunitas aktivis.  Mengapa kekerasan seksual terhadap perempuan begitu marak terjadi? Apa yang membuatnya terus ada dan langgeng dalam kehidupan kita? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu tahu dulu bagaimana kekerasan bekerja. Apa itu Kekerasan? Saat ingin mengartikan kekerasan, mungkin hal yang muncul di benak kita adalah tindakan memukul atau melukai orang lain dengan atau tanpa senjata. Kekerasan biasanya diartikan sebagai tindakan yang menyakiti tubuh, pikiran, atau jiwa seseorang. Pada tahun 1969, seorang peneliti perdamaian dari Norwegia, Johan Galtung, memperkenalkan tiga jenis kekerasan: […]

Read More

70-243  , 000-105  , CISM   c2010-657   PMP   300-206  , 640-692   300-115   400-201   C_TFIN52_66   1z0-808   300-115   210-060   70-463   70-412   300-320   220-902   1Z0-060   350-080   9L0-066   350-080   000-089   CCA-500   210-060   642-732   300-115   3002   70-487   JK0-022   M70-101   350-060   HP0-S42   1Z0-051   642-732   810-403   1z0-434   70-410   350-080  , 102-400   220-902   JN0-102   000-106   70-480   SSCP   1Z0-051  , MB2-704   200-120   70-532   LX0-103   400-101   220-802   70-410  , 300-206   300-208   000-104   70-534  , 70-980  , 350-018   640-916   70-488   200-310   200-125  , 70-462   300-070   70-534   70-980   JK0-022   C_TFIN52_66   2V0-621   220-901  , 200-125  , 1Z0-061   70-532  , 70-347   CRISC   000-017   350-030   PMP  , JN0-102   70-413  , 70-461   3002   EX200  , 100-101   300-208  ,

Back to Top