Ah, Lagi-Lagi Harus Belajar Konsen

Februari 14, 2019 by admin in Rubrik Artikel
Ah, Lagi-Lagi Harus Belajar Konsen

Berkaca pada kasus Agni, agaknya kita lagi dan lagi harus terus mengingatkan diri sendiri, dan juga orang lain (sekadar mengingatkan ala-ala netizen) mengenai konsen. Ironis memang bahwa belum semua orang paham terhadap konsep ini. Bagi kamu yang memang belum tahu apa itu konsen, kata lain yang dapat menggantikan kata ini adalah persetujuan. Jika kamu sedang kuliah, mungkin acap kali berhadapan dengan benda bernama informed consent atau lembar persetujuan. Informed consent adalah sebuah dokumen yang dibuat untuk meminta persetujuan orang lain saat (biasanya) melakukan penelitian. Dokumen ini berupa satu lembar pernyataan bahwa orang tersebut bersedia untuk memberikan informasi demi kepentingan penelitian. Di sisi lain, pihak pengambil informasi menjanjikan untuk tidak menyebarluaskan informasi yang didapat untuk kepentingan lain di luar penelitian. Nah, harusnya sih, sebagai orang yang sedang kuliah, mas HS (pelaku pelecehan seksual kepada Agni) mengerti konsep konsen. Tapi sayangnya, mas HS sepertinya hanya mengikuti hawa nafsunya, alih-alih bertanya dulu.

Kisah Agni ditulis beberapa media sebagai berujung “damai” yang terdengar dipaksakan oleh pihak kampus. Mungkin agar “nama baik” kampus tidak tercoreng. Duh, UGM.

Tetapi kamu juga harus tahu kalau Agni tidak berdamai! Penandatanganan kesepaakatan tersebut merupakan kesepakatan penyelesaian non-litigasi atau penyelesaian sengketa alternatif yang prosedur penyelesaiannya di luar pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi, dan mediasi.

Mari kita telaah makna konsen dengan konsep yang lebih mudah dipahami. Anggap saja kamu adalah seorang penjual bakso. Tentu kita cukup tahu bahwa ada setidaknya dua jenis bakso yang beredar di negara ini, bakso urat dan bakso telur. Ada juga bakso dengan isi-isi kekinian yang hype-nya sebatas maksimal satu tahun, kadang kurang. Katakanlah bakso isi keju, isi cabe rawit, brokoli, atau apalah. Muncul sangat populer, itu pun kalau harganya tidak terlalu mencekik. Tapi mari kita kembalikan fokus kita pada kisah yang saya coba contohkan. Sebagai seorang penjual bakso tentu kamu tidak langsung menyodorkan salah satu jenis bakso pada pelanggan kamu. Belum tentu dia suka bakso urat jika kamu berniat menyediakan bakso urat buat dia. Bagaimana kamu tahu kalau dia tidak suka bakso urat? Sederhana. Tanya dulu. Apa yang diinginkan pelanggan, bakso urat atau bakso telur. Saat pelanggan memilih salah satu, barulah kamu siapkan bakso pilihannya.

Alur cerita akan menjadi sedikit rumit ketika bakso pilihan pelangganmu ternyata habis. Di waktu inilah yang tepat untuk menanyakan persetujuan pelanggan kamu. Apakah dia setuju untuk membeli ragam bakso yang lain? Jika dia tidak setuju dan tidak jadi beli bakso, kamu sebagai penjual tidak bisa memaksakan diri untuk tetap menjual bakso yang bukan pilihannya. Kata lainnya, pelanggan tidak memberikan konsen bagimu untuk menyiapkan bakso yang bukan pilihannya. Mari kita ulang. Kalau pelanggan bilang TIDAK, maka kamu sebagai penjual TIDAK menyiapkan bakso yang tidak ia mau. Kalau pelanggan bilang IYA, maka barulah kamu dapat menyediakan bakso tersebut.

Sederhana bukan?

Dari banyak kasus pelecehan seksual yang terjadi, di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, dengan korban paling banyak adalah perempuan, alasan paling banyak yang dipakai untuk tetap menyalahkan korban adalah karena pakaian korban “mengundang”. Sangat lucu memang. Terkadang membuat hati membara. Ini ekuivalen dengan kisah kamu sebagai penjual bakso yang tetap menjual bakso yang bukan pilihan pelanggan kepada orang tersebut, memaksa ia untuk membayar bakso tersebut dengan alasan “muka pelanggan menyiratkan keinginan untuk makan bakso itu”. Sudah sangat kuno untuk membela diri sebagai peleceh seksual dengan alasan pakaian korban terlalu mengundang. Ingat, jika orang TIDAK bilang, maka bukan berarti dia mau. Kalau kita berbicara tentang undangan, lantas mana undangannya yang menyatakan kamu bisa melecehkan orang lain karena pakaiannya? Dicetak atau disebar lewat Whatsapp? Mohon sediakan undangannya di pengadilan.

Begitu ya mas HS dan pelaku pelecehan lainnya. Tidak susah kan untuk menjadi manusia yang baik? Mungkin Al-Quran dan Bibel atau kitab-kitab lain terlalu tebal bagi manusia untuk mengajarkan kita agar tidak menjadi manusia brengsek. Dan, bagi orang-orang yang tetap membela diri untuk pura-pura tidak mengerti dengan bilang “konsep konsen sulit dipahami”, silakan baca ulang tulisan singkat ini.

Leave a Comment!

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

70-243  , 000-105  , CISM   c2010-657   PMP   300-206  , 640-692   300-115   400-201   C_TFIN52_66   1z0-808   300-115   210-060   70-463   70-412   300-320   220-902   1Z0-060   350-080   9L0-066   350-080   000-089   CCA-500   210-060   642-732   300-115   3002   70-487   JK0-022   M70-101   350-060   HP0-S42   1Z0-051   642-732   810-403   1z0-434   70-410   350-080  , 102-400   220-902   JN0-102   000-106   70-480   SSCP   1Z0-051  , MB2-704   200-120   70-532   LX0-103   400-101   220-802   70-410  , 300-206   300-208   000-104   70-534  , 70-980  , 350-018   640-916   70-488   200-310   200-125  , 70-462   300-070   70-534   70-980   JK0-022   C_TFIN52_66   2V0-621   220-901  , 200-125  , 1Z0-061   70-532  , 70-347   CRISC   000-017   350-030   PMP  , JN0-102   70-413  , 70-461   3002   EX200  , 100-101   300-208  ,

Back to Top