#MudaToleran

Oktober 15, 2018 by admin in Rubrik Artikel
#MudaToleran

“Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya.”

-Gus Dur-

 

Seharusnya pernyataan Gus Dur ini cukup membuat kita semua tersadar bahwa persaudaraan manusia adalah hal yang penting untuk dijaga. Kadang miris jika melihat banyak orang dengan mudah menghakimi dosa seseorang, menghakimi kesalahan seseorang, bahkan menghakimi apakah orang lain pantas masuk surga atau neraka. Tanpa sadar mereka sudah mendahului Tuhan untuk melakukan tugas tersebut. Baik ulama ataupun bukan.

 

Fenomena ini sebenarnya bukanlah hal yang baru. Presiden RI yang pernah menjabat selama 30 tahun menyusupkan ide ini ke alam tak sadar masyarakat Indonesia, bahwa menghakimi orang lain dan bertindak langsung terhadap hal tersebut adalah hal yang wajar. Presiden yang sama dulu menciptakan sentimen ras tionghoa yang sampai sekarang banyak orang mengamini. Hal ini tercermin pada 2017 lalu saat Pilkada Jakarta dipenuhi dengan kampanye sentimen kepercayaan dan ras yang menyudutkan Ahok. Kemarahan masyarakat dibangkitkan dengan narasi yang seutuhnya tidak dapat dipertanggungjawabkan seperti “Haram hukumnya seorang muslim dipimpin seorang kafir” atau “Orang Cina mencuri kekayaan Indonesia”. Di tahun inilah, peringkat Indonesia dalam Indeks Demokrasi Global anjlok 20 peringkat, dari peringkat 48 menjadi 68.

 

Meski bukan sepenuhnya hal baru, namun meningkatnya sentimen ini menjadi semakin menemukan “panggungnya” kembali atas dasar kesamaan “keluh kesah”, atau lebih tepatnya kesamaan “ketakutan tak mendasar”. Imbauan untuk berhati-hati terhadap munculnya PKI kembali, imbauan munculnya Ahmadiyah sesat, atau bahkan imbauan untuk berhati-hati terhadap penularan LGBT menjadi lagu lama yang diaransemen ulang untuk menciptakan ketakutan publik yang tak masuk akal. Sayangnya aransemen ulang lagu ini cukup sukses hingga memunculkan tindak hakim sendiri oleh masyarakat terhadap kelompok yang (selalu) terpinggirkan, sebut saja penyerangan tempat ibadah kelompok Ahmadiyah di Jawa Barat, pemaksaan “tobat” waria di Aceh, penyerangan LBH hanya karena konser musik yang dibilang “kiri”, dan kejadian lain yang sangat membuat sedih, namun juga kadang menyunggingkan senyum miris melihat kebodohan masyarakat yang belum siap untuk jadi manusia seutuhnya.

 

#MudaToleran menjadi satu inisiatif awal yang diharapkan bisa menengahi hal tersebut. 20 anak muda dari Aceh hingga Papua berkumpul untuk menyamakan tujuan dalam menciptakan lingkungan yang toleran (kembali). Anak muda dari berbagai daerah ini bermaksud memunculkan kembali ruang diskusi yang sebelumnya direbut oleh pihak lain untuk menanamkan paham intoleran. Setidaknya harapan itu masih ada untuk mengobati sesuatu yang (sepertinya sudah) hancur lebur.

Leave a Comment!

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

70-243  , 000-105  , CISM   c2010-657   PMP   300-206  , 640-692   300-115   400-201   C_TFIN52_66   1z0-808   300-115   210-060   70-463   70-412   300-320   220-902   1Z0-060   350-080   9L0-066   350-080   000-089   CCA-500   210-060   642-732   300-115   3002   70-487   JK0-022   M70-101   350-060   HP0-S42   1Z0-051   642-732   810-403   1z0-434   70-410   350-080  , 102-400   220-902   JN0-102   000-106   70-480   SSCP   1Z0-051  , MB2-704   200-120   70-532   LX0-103   400-101   220-802   70-410  , 300-206   300-208   000-104   70-534  , 70-980  , 350-018   640-916   70-488   200-310   200-125  , 70-462   300-070   70-534   70-980   JK0-022   C_TFIN52_66   2V0-621   220-901  , 200-125  , 1Z0-061   70-532  , 70-347   CRISC   000-017   350-030   PMP  , JN0-102   70-413  , 70-461   3002   EX200  , 100-101   300-208  ,

Back to Top