Artikel

Sungguh sulit bagi penulis untuk menjawab pertanyaan “Apa sih yang kamu cari di hidup ini?” Terkadang, sudah terlanjur pusing untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut. Satu pernyataan yang cukup sering kita dengar untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah “Mencari kebahagiaan”. Terkadang pula, pertanyaan lanjutan yang membuat sakit perut adalah “Apa yang membuat kamu bahagia?” dan “Bagaimana kamu bisa bahagia?” Standar bahagia setiap orang pun akhirnya berbeda-beda sesuai dengan keadaan hidup masing-masing. Konsep abstrak ini kemudian bertahun-tahun mengalami perkembangan hingga dapat diukur dengan berbagai macam indikator sebagai tolok ukur tingkat kebahagiaan setiap negara. Lho, bagaimana caranya? Bahagia memang tidak selalu

View more

Kiki Febriyanti membutuhkan waktu empat bulan, bersama timnya, melakukan riset untuk film dokumenter berjudul Calalai in-Betweenness. Film yang diproduksi bersama Hivos SEA, Ardhanary Instititute, dan Rumah Pohon ini berkisah tentang eksistensi perempuan dengan ekspresi gender maskulin di Sulawesi Selatan, khususnya di Kabupaten Pangkep. Film ini memberikan gambaran tentang pemahaman masyarakat Bugis mengenai konsep gender. Pemahaman ini berlandaskan pada naskah I Lagaligo yang menyatakan bahwa terdapat lima gender di dalam kehidupan manusia, yaitu Uruane (laki-laki), Makunrai (perempuan), Calalai (perempuan yang maskulin), Calabai (laki-laki yang feminin), dan Bissu (orang suci yang

View more

Hingga hari ini masih banyak kasus pelanggaran berat  HAM yang belum dituntaskan oleh negara. Mulai dari jutaan korban pembantaian dan penahanan pasca 65, korban jiwa di kerusuhan Malari dan Tanjung Priok, belasan aktivis mahasiswa yang diculik dan dihilangkan paksa, hingga kriminalisasi terhadap masyarakat yang memperjuangkan haknya. Masih banyak korban dan keluarga korban yang memperjuangkan haknya sebagai warga, namun sayang negara tetap abai dan menutup mata. Negara tidak menganggap pengungkapan kebenaran menjadi hal yang penting. Negara tidak menganggap perlu untuk mengangkat martabat korban pelanggaran berat HAM yang selama ini hidup penuh stigma dan diskriminasi. Hal ini berbanding terbalik dengan pernyataan Presiden Joko

View more

Mengarang itu gampang, tapi tidak untuk menyembunyikan perasaan. Maka berpuisilah, agar kamu dapat mengerti akan segala arti dari ungkapan. Sembilan belas tahun sudah seisi dunia mengakui bahwa puisi memiliki peran penting untuk kehidupan, kemanusiaan, dan perasaan. Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB atau UNESCO menetapkan tanggal 21 Maret di setiap tahunnya sebagai Hari Puisi Dunia atau World Poetry Day bukan untuk selebrasi biasa. Namun untuk menegaskan kembali makna kemanusiaan melalui ragam linguistik dengan ekspresi yang puitis. Tentunya perayaan ini juga tak terlepas dari sejarah lahirnya puisi dari masa sebelum masehi yang melibatkan seni dan musik. Kali ini, mari kita rayakan Hari Puisi Dunia dengan

View more

Kita marah saat ruang bermain kita diusik. Kita kesal saat orang lain merasa paling tahu atas diri kita sendiri.   Era digital hari ini sangat membantu kita untuk mengekspresikan segala bentuk perasaan, seperti dua contoh di atas. Dengan segala bentuk konten kreatif seperti komik, meme, video, atau bahkan tulisan yang dirangkai ke dalam microblog, kita bisa mengetahui isi hati dan pikiran orang lain hanya dari layar kaca alat elektronik yang kita miliki. Namun yang sangat membantu kita ketika perkembangan zaman dengan segala kemajuan teknologinya tidak disikapi dengan bijak. Sejak tahun 2014 Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) di negara demokrasi ini memberangus ratusan situs yang disinyalir

View more

Tetapi saya mengatakan bahwa korban itu ada, saya menangani tiga orang dan salah satunya adalah anak berumur 14 tahun. Dan salah satu akibat dari perkosaan itu adalah ketiga-tiganya agak – seakan-akan—pikirannya hilang, tetapi yang paling nyata adalah anak yang berumur 14 tahun ini menjadi gila, agak gila..” [1]

Bisa jadi kita adalah anak-anak muda yang merasakan sendiri bagaimana di dalam sekolah, bangunan pengetahuan dan ingatan kita seputar tragedi 1998 berkisar di antara frasa-frasa seperti “Turunnya Soeharto”, “demonstrasi mahasiswa”, atau “krisis ekonomi”. Kita belajar dan menghapal nama-nama mahasiswa yang ditembak aparat, tempat-tempat kerusuhan

View more

70-243  , 000-105  , CISM   c2010-657   PMP   300-206  , 640-692   300-115   400-201   C_TFIN52_66   1z0-808   300-115   210-060   70-463   70-412   300-320   220-902   1Z0-060   350-080   9L0-066   350-080   000-089   CCA-500   210-060   642-732   300-115   3002   70-487   JK0-022   M70-101   350-060   HP0-S42   1Z0-051   642-732   810-403   1z0-434   70-410   350-080  , 102-400   220-902   JN0-102   000-106   70-480   SSCP   1Z0-051  , MB2-704   200-120   70-532   LX0-103   400-101   220-802   70-410  , 300-206   300-208   000-104   70-534  , 70-980  , 350-018   640-916   70-488   200-310   200-125  , 70-462   300-070   70-534   70-980   JK0-022   C_TFIN52_66   2V0-621   220-901  , 200-125  , 1Z0-061   70-532  , 70-347   CRISC   000-017   350-030   PMP  , JN0-102   70-413  , 70-461   3002   EX200  , 100-101   300-208  ,

Back to Top