Ini Cerita Kita, tentang Inklusi dan Kolaborasi

Pada tahun 2006, United Nation mengesahkan Convention on the Rights of Persons with Disabilities (UNCRPD) yang hingga hari ini telah diratifikasi oleh 164 negara, termasuk Indonesia. Dalam konvensi ini, disabilitas dijelaskan sebagai hasil interaksi antara keterbatasan fungsi individu dengan kondisi lingkungan sekitar yang menghambat partisipasi aktif dan efektif dalam masyarakat. Sehingga disabilitas bukanlah kondisi keterbatasan fisik atau psikis seseorang, tetapi keterbatasan fungsi seseorang dalam lingkungan.

Permasalahan disabilitas di berbagai sektor telah menjadi sebuah fenomena yang kompleks. Ketika kebutuhan seseorang dengan keterbatasan fungsi tidak dapat diakomodasi, maka akses untuk mendapat pelayanan publik  pun akan terbatas dan menghambat partisipasinya, terutama dalam kegiatan sosial ekonomi. Hal inilah yang pada akhirnya membuat peran penyandang disabilitas semakin terpinggirkan di masyarakat.

Berdasarkan data PUSDATIN dari Kementerian Sosial, pada 2010, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia adalah 11.580.117 jiwa, dengan 2,547,626 jiwa di antaranya adalah penyandang disabilitas pendengaran atau tuli. Meskipun jumlah tuli di Indonesia tergolong cukup tinggi, namun permasalahan mereka belum ditangani dengan baik oleh pemerintah.

Permasalahan yang paling mendasar adalah penggunaan bahasa isyarat yang hingga hari ini belum menjadi bahasa ibu untuk mereka. Berbagai Sekolah Luar Biasa pun hingga hari ini masih memaksakan penggunaan bahasa oral untuk para tuli.

Selain itu, aksesibilitas komunitas tuli terhadap fasilitas publik pun masih jauh dari harapan. Tidak adanya running text di layanan publik, serta pegawai penyedia layanan publik yang kurang sensitif membuat tuli kesulitan dalam mengakses fasilitas.

Sejak pertengahan 2017 hingga sekarang, Pamflet bekerja sama dengan Gerkatin Kepemudaan (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia-Kepemudaan) serta Sedap Films berinisiatif melaksanakan sebuah program penguatan kapasitas anak muda tuli agar dapat lebih aktif berorganisasi dan mengekspresikan pendapatnya. Ini Cerita Kita didukung oleh Voice hingga tahun ini. Kegiatan dalam program ini mencakup penguatan kapasitas anak muda tuli dalam kampanye dan persiapan kerja, pembuatan dan aktivasi situs web, pembuatan film pendek, serta kunjungan ke sekolah dan komunitas. Vlog yang dihasilkan dalam pelatihan serta film pendek yang diproduksi menjadi materi kampanye serta advokasi Gerkatin Kepemudaan menanggapi berbagai situasi sosial, politik, ataupun isu lainnya di Indonesia.

Program Ini Cerita Kita juga menjalin kolaborasi lintas institusi dalam merespon isu disabilitas di Indonesia, khususnya hak disabilitas dalam dunia kerja. Setiap tahunnya, Ini Cerita Kita menggelar sebuah festival yang ditujukan kepada publik agar diskusi seputar disabilitas dapat menggema dan memicu pemenuhan hak disabilitas di ruang publik. Film pendek yang dihasilkan dalam program mencakup:

  • Film “Toko Musik”
  • Film “Rumah Siput”
Share This
Scroll to Top