ID | EN

13 Buku Buat Bacaan Akhir Pekan Senjamu

pat-memory

Jangan habiskan akhir pekanmu dengan menggerutu soal hasil Pilkada, ikut-ikutan mendompleng tagar #SayaBertanya di Twitter, atau memanjang-manjangkan diskusi soal betapa tidak sahihnya La La Land ditahbiskan sebagai film terbaik di kuartal pertama 2017. Jangan.

Sebaliknya, habiskan masa-masa kering pasca-Valentine ini dengan membaca. Iya, kegiatan ini selalu berhasil jadi solusi bagi semua punggawa Pamflet ketika kami merasa gamang memandang segala apa kehidupan. Oleh karena itu, #KamiBertanya pada para personil Pamflet: buku mana yang sangat ingin kamu rekomendasikan ke semua orang, dan kenapa?

 

1. Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer

Pilihan Afra, fellow Pamflet

“Tetralogi legendaris ini: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca bisa menginspirasi orang yang skeptis sama nasionalisme untuk mau berjuang demi bangsanya. Tapi tidak serta merta menyuarakan nasionalisme secara berlebihan, novel ini justru menceritakan perjuangan untuk kemanusiaan.

Tetralogi ini ditulis pada saat Pram, penulis terbaik Indonesia yang pernah masuk nominasi Nobel Sastra, berada di penjara pulau Buru. Novel ini dilarang pada masa Orde Baru dan dituduh sebagai novel komunis – salah satu keputusan terbodoh Orde Baru. Buku ini bahkan diterbitkan dalam bahasa Inggris sebagai bagian dari Penguin Classics, sejajar dengan karya-karya sastra terbaik di seluruh dunia. Kutipan favorit di buku Anak Semua Bangsa:

“Selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia.”

 

2. Americanah karya Chimamanda Ngozi Adichie

Pilihan Indah, fellow Pamflet

“Novel ini wajib kamu baca karena novel ini mengangkat berbagai isu kayak imigran, politik, identitas, cinta, perjuangan kelas dan perempuan. Bahkan persoalan rambut buat cewek kulit hitam di Nigeria misalnya jadi urusan politik. Semua isu dibahas dengan alur menyenangkan. Pokoknya buku ini fun dan seru!”

 

3. Pulang karya Leila S. Chudori

 

 

Pilihan Ninies, fellow Pamflet

“Novel ini seperti mesin waktu yang membawa kita mengarungi masa-masa aktivisme era 1965-1998. Walau berbumbu kisah cinta, tapi yang paling saya suka dari novel ini adalah kemampuannya mengajak pembaca merasakan situasi dan emosi yang kurang lebih sama dengan yang terjadi di sejarah masa lalu.”

 

4. The Famished Road karya Ben Okri

Pilihan Fani, fellow Pamflet

“Cerita asal Nigeria ini punya alur yang unik. Orang pertama dalam novel adalah anak yang berada di tengah-tengah antara dunia manusia dan roh. Tak hanya imajinatif, tapi roh-roh dan berbagai fantasi di novel ini juga pelan-pelan membawa kita ke suasana sosial-politik pasca-kolonial di Nigeria.”

 

5. Wiro Sableng karya Bastian Tito

 

 

Pilihan Jenggot, fellow Pamflet

“Wiro Sableng merupakan perjumpaan pertama saya dengan novel. Menariknya, cerita ini menggambarkan perasaan masyarakat yang tertindas dan minoritas, serta melakukan pembelaan terhadap yang lemah.”

 

6. Musashi karya Eiji Yoshikawa

Pilihan Aquino, fellow Pamflet

“Novel ini menemani gue beranjak remaja dan banyak membantu memberikan perbandingan tentang seorang muda yang mencari jalan hidupnya, menemukannya dan belajar setia pada pilihannya.”

 

7. Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marquez

Pilihan Moli, Koordinator Umum Pamflet

“Gue suka gimana buku ini di satu sisi bisa nyeritain hantu-hantu dari masa lalu, ada karakter anak kecil yang ke mana-mana bawa tulang belulang orang tuanya, nganggep es batu dan magnet itu benda sihir, tapi di sisi lain juga bercerita soal pesona ilmu pengetahuan, politik, militer, pemberontakan hingga pembantaian massal. Novel yang aneh, gloomy, dan ‘mistis’ banget dalam artian tertentu, tapi asyik dibaca dan bikin ketagihan.”

 

8. Lupus karya Hilman Hariwijaya

Pilihan Firman, Youth Studies

“Novel ini asyik karena menggambarkan keadaan anak muda pada tahun 90-an. Cerita novel ini tidak hanya tentang hidup senang, tapi juga soal menjadi kritis terhadap apapun di sekitarnya.”

 

9. The Thorn Birds karya Colleen McCullough

Pilihan Amrie, Youth Movement

“Gue membeli novel ini saat kuliah dan masih terngiang-ngiang quote McCullough di novel tersebut:

‘Ada sebuah legenda tentang seekor burung yang bernyanyi hanya sekali dalam hidupnya, lebih cantik dari seluruh makhluk di muka bumi. Sejak saat itu, ia terbang mencari pohon berduri dan tidak akan berhenti sampai ia menemukannya. Kemudian ia bernyanyi di antara cabang-cabang pohon dan menusukkan dirinya sendiri ke duri terpanjang dan tertajam yang ada.’

Quote McCullough sebenarnya tidak berhenti sampai di situ, tapi menurut gue, quote ini benar-benar menggambarkan isi cerita novel ini: kisah dramatis keluarga Cleary di peternakan luas di Australia dengan cuacanya yang ekstrim. Tutur bahasa dan kisah di novel ini sangat berbeda dari novel yang dibuat di tahun 2000-an, dan itu membuat gue tertarik baca.”

 

10. Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer

 

 

Pilihan Justian, fellow Pamflet

“Novel ini liar, namun bermakna dan memiliki maksud yang jelas: bagaimana feodalisme membunuh hidup orang-orang. Selain itu, latar waktu dan tempat yang sudah sangat lalu membuat saya benar-benar merasa ada di latar tersebut.”

 

11. Kisah Klan Otori (Tales of The Otori) karya Lian Hearn

Pilihan Fia, fellow Pamflet

“Cerita novel ini tentang perebutan kekuasaan antar klan di Jepang pada zaman dahulu kala. Karena di setiap bagian sudut pandang cerita berganti-ganti, jadi bikin pembaca bisa memahami karakter di novel ini secara lebih mendalam, bahkan dari sisi seekor kuda! Di sini gue enggak cuma dapat cerita tentang bunuh-bunuhan, tapi juga masalah-masalah kepentingan, kesetiaan, feminisme dan kepercayaan.”

 

12. Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya

Pilihan Fahmi, fellow Pamflet

“Novel ini mengisahkan revolusi Indonesia. Keunikannya adalah, sang tokoh utama justru berperang dari pihak Belanda melawan Indonesia. Pemilihan tokoh yang seperti ini membuat novel ini pernah dicekal dengan alasan membahayakan patriotisme. Namun, novel ini amat menarik dan sungguh pantas menerima penghargaan seperti yang diterimanya sebagai novel terbaik Asia Tenggara tahun 1984.”

 

13. The Seven Good Years karya Etgar Keret

 

 

Pilihan Raka, Youth Studies

“Memoar ini ditulis Keret, seorang penulis asal Israel yang lebih dikenal dengan karya-karya fiksi super pendek, alias flash fiction. Biasanya, di karya-karya fiksi dia, Keret berbicara tentang hal-hal yang absurd, ajaib dan mengharukan: seperti supir bis yang pernah bermimpi jadi Tuhan, seorang depresif yang bersahabat dengan malaikat pemalas, hingga seorang perempuan yang jatuh cinta dengan lelaki tanpa wujud. Namun, di balik kisah-kisahnya yang terkesan surrealistis itu, selalu ada komentar dan kritik halus tentang politik Israel, kebijakan negaranya, hingga hak asasi manusia.

Di The Seven Good Years, Keret menulis memoar yang lebih blak-blakan soal posisi politiknya. Salah satu momen favorit gue adalah saat Keret menulis tentang mengantar anaknya yang masih 3 tahun ke taman bermain, dan ditanyai Ibu-Ibu di sana: ‘Apakah anak anda akan ikut wajib militer?’ Refleksi dia soal kebijakan politik Israel, etika wajib militer, dan segudang pemikiran lain hampir bikin saya menangis.”

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lain

Skip to content