ID | EN

Arab Spring

Arab Spring: Media Sosial dan Demokratisasi Arab

 

Latar Belakang

Menjelang akhir tahun 2010, Timur Tengah bergejolak. Beberapa pemerintah negara menghadapi serangkaian demontrasi yang diorganisir oleh anak-anak muda yang memperjuangkan demokrasi dan kehidupan layak bagi masyarakat. Gerakan inilah yang kemudian dikenal dengan Arab Spring, yang menginspirasi Chilean Winter, gerakan pelajar besar-besaran di Chile.

Arab Spring adalah sebuah gerakan perubahan yang dilakukan oleh masyarakat sipil dengan tujuan menggulingkan kepemimpinan otoriter. Gelombang gerakan ini terjadi di berbagai negara Arab, seperti revolusi Tunisia dan Mesir, perang di Libya, dan pemberontakan di Suriah dan Yaman. Bahkan kerusuhan di perbatasan Israel pada 2011 juga merupakan dampak dari gelombang tersebut.

Kebangkitan dunia Arab ini bermula dari seorang pemuda berusia 26 tahun bernama Mohamed Bouazizi yang berasal dari Provinsi Sidi Bouzid di Tunisia. Bouzazi adalah sarjana S1 yang terpaksa menjadi pedagang sayung dan buah karena kesulitan mendapat pekerjaan. Pengangguran memang jadi permasalahan umum di Tunisia.

Pada 17 Desember 2010, polisi menyita barang dagangannya karena permasalahan izin, tidak terima atas perlakuan tersebut, Bouzazi lalu melumuri badannya dengan bensin dan memercikan api—ia membakar diri sendiri sebagai bentuk protes. Bouzazi meninggal di rumah sakit pada 4 Januari 2011 akibat luka bakar (Agastya, 2013).

Dengan segera, aksi Bouzazi meledakkan kemarahan rakyat. Aksi solidaritas terhadap Bouzazi pun dilakukan sehari kemudian. Tanggal 19 Desember 2010 menandai dimulainya demonstrasi besar-besaran, aksi kekerasan, dan kerusuhan hingga 27 Januari 2011. Aksi-aksi ini akhirnya menyebar ke seluruh Tunisia dan negara tetangga, yang meliputi Mesir, Aljazair, Yaman, Yordania, Suriah, Bahrain, Maroko, dan Libya.

 

Kemarahan yang Terkulminasi

Bouzazi adalah simbol, tapi kurang tepat jika mengatakan bahwa ia hanya simbol perlawanan Tunisia. Lebih jauh lagi, Bouzazi adalah simbol perlawanan bangsa Arab terhadap kekejaman rezim. Tragedi Bouzazi membuat kekecewaan dan kemarahan rakyat meledak karena kondisi sosial, ekonomi, dan politik Timur Tengah yang gagal menyejahterakan rakyatnya.

Setidaknya terdapat empat faktor yang menyebabkan kemarahan rakyat terhadap pemerintah. Pertama, tingat pengangguran dan angka kemiskinan yang tinggi. Pada 2009, tingkat pengangguran di Tunisia sekitar 14,1%, di Mesir 8,4%, Aljazair 12,5%, Yaman 35%, Yordania 12,6%, Suriah 86%, Bahrain 15%, Maroko 10% dan Libya 30% (Hanouz dan Khatib, 2011). Dimana mayoritas pengagguran adalah usia muda dan produktif (Ghosh, 2011).

Kedua, permasalahan pengguran diperparah dengan kenaikan harga kebutuhan pokok di Timur Tengah. Hal ini tentu saja membuat kondisi perekonomian negara-negara Timur Tengar kian terpuruk. Ketiga, ketidakpuasan terhadap sistem politik otoriter yang menyebabkan tingkat kesejahteraan masyarakat sangat sulit untuk tercipta.

Terakhir, adalah permasalahan korupsi yang terus terjadi. Menurut Corruption Perception Index (CPI) yang dikeluarkan oleh Transparency International pada tahun 2010, tingkat korupsi di negara-negara Timur Tengah cukup tinggi, dimana Tunisia berada pada peringkat ke-59 dan Mesir pada peringkat ke-98 dari 178 negara. Keempat faktor in tentu saja lebih dari cukup untuk menjadi bahan bakar sebuah revolusi, ditambah tragedi Bouzazi yang memantik sumbunya, sehingga pergolakan pun terjadi dimana-mana.

 

Media Sosial dan Aktivisme Transnasional

Para pemuda di Timur Tengah dengan cepat merespon permasalah tersebut. Secara umum, mereka menginisiasi berbagai kegiatan yang kemudian menyebar dan memicu gelombang revolusi di Timur Tengah. Namun, sebelum menuliskan lebih lanjut tentang respon mereka, penting untuk memahami bagaimana gelombang revolusi ini bisa terjadi.

Gelombang revolusi di Timur Tengah sering dijelaskan sebagai “Gelombang Demokratisasi” yang berusaha meruntuhkan otoritarianisme dan menggantinya dengan proses transisi demokrasi (Grand, 2011). Melalui perspektif ini, Samuel Huntington, seorang ilmuwan politik Amerika Serikat, mengatakan bahwa Arab Spring adalah respon liberal atas otoritarianisme yang menghendaki kebebasan politik dan terciptanya demokrasi di Timur Tengah. Perspektif ini melihat bagaimana demokratisasi secara alamiah akan muncul dengan semakin berkembangnya teknologi digital, termasuk media sosial.

Di beberapa negara Timur Tengah, masyarakat yang mengakses internet sudah cukup masif. Hal tersebut terjadi karena masyarakat paham saat ini media dan teknologi mudah diakses. Konsekuensinya adalah kemunculan kelas menengah di kalangan anak muda yang memiliki sumber informasi sangat luas dan keberanian mengungkapkan pendapat. Berdasarkan sebuah survei, ditemukan bahwa 56% pemuda Timur Tengah menggunakan internet setiap hari, 54% mendapatkan sumber informasi yang bisa dipercaya melalui televisi, 67% menyadari tingginya biaya hidup yang mereka hadapi, dan 30% menginginkan pindah secara permanen ke negara lain (Ghosh, 2011)

Fenomena inilah yang menyebabkan masyarakat Timur Tengah dapat dengan mudah saling berinteraksi dan mengungkapkan kekecewaan dan kemarahannya terhadap pemerintah melalui media sosial. Selain media sosial, blog juga memiliki peran penting dalam Gelombang Arab Spring. Blog menjadi sarana pemuda untuk berekspresi, memberikan kritik, berdiskusi, dan berdialog untuk melakukan konsolidasi (Hauslohner, 2011).

Meminjam argumen Sidney Tarrow, seorang profesor dari Universitas Cornell, penggunaan media sosial sebagai alat gerakan adalah salah satu bentuk aktivisme transnasional yang menggunakan media sosial dan blog sebagai alat untuk menyampaikan simbol-simbol dan pesan gerakan yang dibangun oleh para aktivis (Tarrow, 2005).

 

Apa yang bisa kita pelajari dari Arab Spring?

Media sosial telah memudahkan pertukaran informasi antar anak muda di Timur Tengah. Anak muda Mesir sudah siap menghadapi aparat keamanan karena mendapat informasi dari anak muda di negara lain. Sebagai contoh, ketika terjadi kerusuhan, para demonstran dianjurkan untuk menaruh jeruk, cuka atau bawang di bawah scarf sebagai upaya untuk menangkal gas air mata.

Melalui media sosial, bahkan, aktivis yang ditahan oleh pemerintah tetap bisa menyebarkan gagasan-gagasannya. Sebagai contoh, Ahmad Maher, seorang aktivis pergerakan Mesir, pernah membuat grup di Facebook dan mengunakannya sebagai simpul komunikasi gerakan serta melakukan upaya penggalangan dana (Leksono, 2011).

Dampak jejaring sosial di Timur Tengah memang luar biasa. Bahkan ketika jejaring sosial itu mulai dilarang oleh pemerintah, bukannya berhenti, gelombang kemarahan malah makin membesar. Media sosial membantu aktivis mengorganisasi gerakan dan berinteraksi, namun peran terbesarnya muncul ketika jejaring sosial itu menghilang. Seperti yang terjadi di Mesir, ketika pemerintah memblokir akses internet, kemarahan publik pun semakin membesar, bahkan The Economist sampai menuliskan “jika pemerintah anda menutup internet, tiba waktunya Anda untuk menutup pemerintahan tersebut”.

Hassan Nafaa, seorang profesor ilmu politik di Universitas Kairo, menyebut para pemuda sebagai “the Internet or the Facebook Generation, or just call them the Miracle Generation” (Ghosh, 2011). Sanjungan tersebut diberikan karena ia melihat sebuah keajaiban yang diciptakan oleh anak muda dalam memanfaatkan kemajuan teknologi digital. Bukan hanya meruntuhkan kekuasaan otoriter, pemanfaatan internet bahkan mendorong demokratisasi di seluruh Timur Tengah. Tentu saja hal keajaiban itu bisa terjadi dimana-mana, termasuk Indonesia.

 

Daftar Bacaan

Agastya, M. 2013. Arab Spring. Yogyakarta: IRCiSod

Ghosh, Bobby. 2011. Revolution Delayed. Time

Ghosh, Bobby. 2011. Rage, Rap, anda Revolution. Time

Grand, Stephen R. 2011. Starting from Egypt: The Fourth Wave of Democratization?. The Brookings Institution

Hardiman, F. Budi. 2010. Demokrasi Deliberatif: Menimbang Negara Hukum dan Ruang Publik dalam Teori Diskursus Jurgen Habermas. Yogyakarta: Kanisius

Hanous, M.D dan S. Khatib. 2011. The Arab World Competitiveness Review. World Economic Forum

Hauslohner, Abigail. 2011. Democracy, Egyptian Style. Time

Leksono, Ninok. 2011. Teknologi Digital dalam Revolusi Politik. Kompas

Tarrow, Sidney. 2005. The New Transnational Activism. Cambridge: Cambridge University Press

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on whatsapp
WhatsApp

Artikel Lain

Skip to content