ID | EN

Jika Padam, Nyalakan

WhatsApp Image 2022-09-20 at 2.44.38 PM

Ditulis dan difoto oleh Highvolta Media feat. Cays dan Helmi

“Masih perlukah kita menyelamatkan ruang publik?” Jawaban “tidak perlu” tentu saja menjadi satu-satunya pilihan tegas bagi kita sebagai masyarakat yang memiliki hak penuh untuk dapat menggunakan serta menikmati fasilitas yang telah disediakan oleh pihak yang berwenang. Taman, museum, gedung pertunjukan dan ruang-ruang lainnya merupakan produk dari hasil jerih payah masyarakat menyetor pajak. Peran pemerintah untuk membangun ‘ruang’ bagi masyarakat sudah tentu menjadi hal yang wajib untuk dilaksanakan, tak perlu tuntutan, sadar akan posisi mereka sebagai pelayan semestinya sudah tidak membutuhkan lagi bel pemanggil untuk satu hal yang menjadi prioritas dalam ruang lingkup pembangun kota.

Ruang publik yang telah hadir, sejatinya dibangun sesuai dengan kepentingan serta keperluan masyarakat, hadirnya ruang publik–dalam bentuk apapun–salah satu fungsinya untung menopang ekosistem masyarakat dalam berkegiatan, seperti bekerja, olahraga, menggelar pagelaran, berkesenian, dan masih banyak lagi. Fungsi ruang publik yang harus tepat sasaran menjadi poin penting dalam pembentukannya, bagaimana roda sosial, budaya serta ekonomi mesti berputar sebaik-baiknya. Disini peran ‘fasilitator’ yang menjadi pemeran utama.

Pembangunan ruang publik selalu menjadi panggung yang cantik untuk tampil, sebagai pemegang kendali kota, perihal satu ini adalah lahan basah untuk mendapat atensi yang baik dari masyarakat. Dengan berbagai alasan manis sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat. Namun kita semua tahu, hampir sebagian besar pengelolaan ruang publik selalu berakhir buruk.

Menjaga dan melestarikan ruang publik adalah tanggung jawab yang utama. Tak perlu membicarakan hal besar dahulu, banyak persoalan kecil yang masih belum tuntas diselesaikan. Salah satu masalah yang berlarut-larut: pemeliharaan, terutama dalam kasus infrastruktur. Kami–masyarakat–sangat sadar bahwa para pengurus memiliki banyak kepentingan lain diluar ‘mengerjakan dengan sepenuh hati’ soal produksi ruang bagi publik, kalimat terakhir ini tak perlu didebat.

Pada akhirnya publik mengalami krisis kenyamanan, kuasa pemeliharaan menjadi kabur. Lahan yang seharusnya dirawat oleh yang bertanggung jawab menjadi terbengkalai, tak terawat. Masyarakat–tanpa menyudutkan perilaku buruknya–pun hilang kendali sebagai pihak yang “menggunakan”, buang sampah sembarang, memakai fasilitas tak beraturan, dan hal-hal lainnya yang seolah merusak ruang tersebut. Disinilah satu masalah besar muncul; melemparkan kesalahan kepada masyarakat sebagai pemeran nomor satu dari tak terawatnya ruang publik, menempatkan peran antagonis yang tak mendukung usaha sang empunya. Memakai jurus perilaku “vandalisme”.

Jika kita putar balik memakai akal sehat, justru merekalah yang merusak (re:vandalisme) tempat yang mereka bangun sendiri. Tak ada tindak lanjut pemeliharaan. Pembangunan menjadi sia-sia dan abai terhadap kritik yang datang. Kita bisa bayangkan betapa lucunya ketika mereka membangun ruang untuk memfasilitasi publik dengan penuh kebanggan kuasa dan pada akhirnya mereka pula yang memerankan sosok vandalis sebagai perusak tempat tersebut.

***

Tulisan ini mungkin terkesan naif dan ofensif. Namun, ini adalah surat terbuka dari kami yang masih sedikit peduli dengan jatah preman yang rutin kami setor. Karena mereka sudah gagal untuk untuk menyediakan fasilitas untuk warga, dalam agendanya sebagai pelayan publik.

Kembali pada pertanyaan awal, jawaban “tidak perlu” hanya akan menabrak banyak tembok tebal, dan mungkin beberapa terobosan yang sekadar dilakukan secara sektoral. Sederhananya, secara teknis publik tak memiliki tanggung jawab untuk “merawat” ruang publik, revitalisasi ‘ruang publik’ sama saja dengan death wish, memanjakan yang seharusnya melakukan itu semua.

Garis bawahi kalimat “sedikit peduli”, kami melakukan gerakan terbuka pada ruang publik, tempat dimana alas yang seharusnya layak dipakai. Bukan karena kami warga yang baik, gerakan ini hanya respon kami atas bobroknya ruang publik. Tak ada tendensi atas nama seni, revitalisasi, atau apapun itu. Ini hanya aksi naif sebagai warga yang mual melihat tempat yang seharusnya layak pakai sesuai fungsi, dan ‘membersihkan’ aksi vandalisme yang dilakukan oleh “oknum”.

Selamat menikmati.

***

Photo story ini merupakan bagian dari kolaborasi Highvolta Media dan Pamflet Generasi dengan tema payung “Orang Muda dan Ruang Publik”. Keluaran kolaboratif lainnya bisa dipantau melalui akun Instagram Highvolta Media (@highvolta_) dan Pamflet (@pamfletgenerasi).

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Artikel Lain

Skip to content