Di Duniamu Hal Buruk Berlalu Tanpa Kejelasan

1

Dari sekian banyak hal buruk di dunia ini, kamu hanya bisa membenci ibumu sendiri. Benci yang sebetulnya tidak bisa kamu definisikan dengan jelas. Terkadang kamu merasa begitu muak. Tapi terkadang kamu juga mengharapkan sebuah dekapan hangat darinya sebagai dua orang yang sudah tidak punya siapa-siapa lagi.

Bagaimana dengan Bapak? Semua atribut yang berkaitan dengan julukan itu terasa ganjil. Sepanjang hidupmu, tidak ada seseorang pun yang pernah kamu panggil dengan julukan itu. Kedua orangtuamu menyerah pada komitmen yang mereka buat sendiri. Dia – orang yang seharusnya kamu sebut sebagai Bapak – memilih jalan yang berbeda sebelum mulut mungilmu bisa mengoceh Ba ba pa pa ba pa.

Apa yang kemudian terjadi adalah dunia yang semakin kacau. Nasib buruk melemparmu ke sana-kemari seperti bola pingpong. Inilah yang terjadi: Ibumu yang janda meninggalkanmu untuk pergi bekerja ke Kota. Kamu yang masih kecil diasuh oleh nenekmu. Ketika masuk sekolah menengah pertama, kamu tinggal bersama bibi dan pamanmu di Kota. Baru ketika kamu memasuki sekolah menengah atas, kamu tinggal bersama perempuan yang kamu panggil Ibu – dengan perasaan canggung dan rasa asing satu sama lain.

Di rumah baru itu, kamu bertanya tentang banyak hal. Sebelah dirimu mencoba menerima bahwa yang ada di hadapanmu adalah seorang Ibu tempat kamu berbakti. Sebelah dirimu yang lain protes mempertanyakan, mengapa dulu kamu meninggalkanku? Mengapa baru sekarang? Semua kasih sayang yang kamu terima darinya kamu timbang ulang. Mengapa semuanya terasa begitu terlambat?

Rumah Ibumu terletak di pinggiran kota besar. Sebuah rumah kecil, tapi cukup untuk kalian berdua. Di dinding rumah, tidak ada foto keluarga seperti yang terlihat di rumah orang lain. Ibumu menegaskan bahwa tidak ada lagi tempat untuk orang-orang dari masa lalu di rumah itu. Apa yang telah pergi, biarlah tenggelam dalam lupa. Tidak perlu penanda atau kenangan – semuanya harus dijauhkan.

Dan itulah yang kini kamu terima. Tidak ada kenangan visual tentang Bapak yang bisa kamu ingat dengan jelas. Ingatan masa kecilmu merekam cerita seseorang yang rutin mengantarkan susu dan roti sebagai penuntasan peran seorang bapak. Itulah ingatan paling purba yang bisa kamu ingat. selebihnya kamu mengingatnya sebagai “hukuman” karena nenekmu selalu mengancam akan menyerahkan kamu ke bapak ketika kamu berbuat nakal. “Biar kamu direbus di sana!” kata nenek. Kamu kecil takut direbus. Kamu lebih takut lagi bertemu dengan orang yang bisa melakukan itu. Ketakutan itu menjauhkan kamu dari bapak jutaan tahun cahaya. Meskipun dia datang ke rumah nenek, kamu tidak pernah berani mendekat apalagi menatap wajahnya.

Kamu merasa kesal saat orang-orang dari kampung halamanmu mengatakan bahwa wajahmu sangat mirip dengan Bapak. Padahal, kamu sama sekali tak punya bayangan visual tentangnya. Bagaimana rambutnya? Apakah postur tubuhnya tinggi? Kamu sama sekali tidak punya petunjuk. Tidak ada foto pernikahan. Tidak ada album keluarga.

Ibumu, satu-satunya orang yang bisa memberikan informasi itu, tetap bungkam. Dia memilih untuk menyimpan masa lalu itu untuk dirinya sendiri.

Dua tahun lalu, ketidakpuasan terhadap Ibumu meledak. Ibu memberi tahu bahwa Bapak meninggalkan kalian untuk kali kedua. Kali ini, kepergian itu abadi. Kamu menangis di bahu seorang teman dengan perasaan sedih yang tak terkendali. Ibumu meminta maaf karena gagal mempertemukan kamu dengan Bapak. Rasa sedih itu kemudian berubah menjadi amarah. Mengapa semua permintaan maaf selalu datang terlambat?

***

Di mata orang lain, kamu menjalani hidup yang gemilang. Kamu menyelesaikan kuliah tepat waktu dengan biaya sendiri. Di kantor kamu tumbuh jadi orang yang bisa diandalkan. Pencapaianmu saat ini jauh melebihi teman-teman mainmu. Tapi, di dalam dirimu ada perasaan hampa yang selalu mengintai. Gak peduli sebanyak apapun pengalaman yang kamu kumpulkan, kehampaan itu akan selalu bertahan di sana. Suasana hatimu bisa tiba-tiba kacau ketika menyaksikan anak-anak kecil diantar oleh orangtua mereka. Bahkan, kamu enggan berlama-lama di tempat umum ketika ada keluarga bercengkrama. Rasa gemas menyelimuti hatimu saat melihat keluarga kecil menikmati makan malam di restoran. Menyaksikan hal-hal kecil seperti itu membuatmu merasa tidak utuh.

Bagaimana rasanya hidup di dunia yang setiap sudutnya mengingatkanmu akan nasib sial? Kamu sudah lama tau jawabannya. Untuk waktu yang lama kamu telah berusaha mengidentifikasi perasaan kamu sendiri dan berdamai dengan banyak hal. Ketika akhirnya kamu mengakses layanan psikolog, kamu datang dengan kesiapan penuh untuk menghadapi dunia yang baru. Dunia yang telah kamu impikan sejak lama. Dunia yang akan kamu bangun dari berangkal masa lalu.

Kamu memulainya dengan menziarahi bapak setelah dua tahun kepergiannya. Ziarah yang kamu lakukan sendirian. Tidak banyak doá yang kamu panjatkan ke langit. Kalian hanya bercengkrama dengan bahasa yang hanya kalian mengerti sendiri. Kamu percaya yang mati berbicara lebih jujur dari yang masih hidup. Dan kamu menerima kejujuran.

Di rumah, hubungan dengan Ibumu masih rumit. Ia tetap bungkam tentang peristiwa di masa lalu yang mengakibatkanmu terjebak dalam deretan nasib sial. Namun, sekarang kamu telah menyikapinya dengan lebih terbuka. Setelah melakukan perjalanan ke dalam lorong-lorong gelap dalam dirimu sendiri dan mengungkap lapisan-lapisan trauma yang telah lama tertutup, kamu menyadari bahwa bukan hanya dirimu yang terluka oleh keputusan-keputusan masa lalu, melainkan juga Ibumu. Kamu dengan penuh kesadaran memahami bahwa langkah penting dalam perjalanan penyembuhanmu adalah membantu Ibumu menyembuhkan dirinya juga. 

***

Di bawah langit hitam maha luas kita duduk sejajar malam itu. Aku merasa menjadi orang jahat karena memandumu membuka kembali luka masa lalu.

“…Aku cerita karena aku mau merayakan kalau sekarang sudah bisa menerima.” Bantahmu. Aku menjadi sedikit lega.

Bagiku, kesiapan kamu berbagi pengalaman buruk adalah penegasan akan keluasan hati. Perjalananmu sampai titik ini jadi terasa ajaib. Dan begitu juga pengalaman banyak orang lain di luar sana yang sintas dari pengalaman buruk di masa lalu, yang memiliki keluasan hati untuk menerima sekalipun banyak hal berlangsung tanpa kejelasan.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lain

Skip to content