Coronavirus dan Xenophobia

Awal tahun ini banyak peristiwa yang membuat kita menggigit jari. Mulai dari banjir awal tahun, isu perang dunia ketiga, dan yang sampai sekarang masih terus berlanjut adalah Novel Coronavirus atau virus corona. Coronavirus atau 2019-nCoV pertama kali dilaporkan dari Wuhan, China pada 31 Desember 2019. Coronavirus masih satu keluarga dengan (Middle East Respiratory Syndrome (MERS) atau MERS-nCoV serta Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) atau SARS-nCoV. 

WHO mengeluarkan pernyataan bahwa coronavirus adalah penyakit berbahaya. Coronavirus menyerang lewat udara dan mengakibatkan pernapasan udara terganggu, demam tinggi, batuk, serta pilek. Menurut data dari Johns Hopkins CSSE, jumlah korban meninggal akibat COVID-19 yang disebabkan coronavirus mencapai 1.368 orang dan 60.329 orang terinfeksi COVID-19 hingga Kamis (13/2/2020) pukul 10.30 WIB. Korban meninggal paling banyak terdeteksi di Hubei, China. 

Coronavirus menjadi berbahaya bukan hanya karena virusnya mematikan, walaupun sudah banyak yang meninggal karena virus tersebut, namun tidak sedikit yang sudah sembuh dari coronavirus. Tercatat sudah ada 3.281 pasien virus corona yang dinyatakan sembuh di wilayah Cina Selatan, dengan 1.795 pasien di antaranya ada di wilayah Provinsi Hubei. Walau begitu, media tampak tak segan-segan membuat berita bombastis tentang coronavirus.

Media seharusnya menjadi alat untuk memilah informasi apa saja yang dapat bermanfaat bagi masyarakat. Namun di Indonesia, warga +62 ini memang lebih suka melebih-lebihkan cerita atau bahkan membuat informasi gadungan. Mulai dari hoax bahwa coronavirus berasal dari laboratorium yang bocor, virus dibawa melalui alat elektronik milik Cina ke Indonesia, sampai coronavirus dapat disembuhkan lewat ruqyah. Efek terparah yang dirasakan masyarakat dari media tersebut adalah memunculkan diskriminasi terhadap warga Tiongkok.

Informasi yang simpang siur serta tidak adanya upaya media untuk meluruskan ternyata berdampak buruk. Diskriminasi terhadap warga Tiongkok semakin parah. Bukan hanya di Indonesia saja, namun sampai ke hampir seluruh dunia. Misalnya di Jepang, negara tetangga China  ini menolak kedatangan warga China. Mereka membuat tagar #ChineseDon’tComeToJapan di Twitter dan menjadi trending

Di Kanada ada laporan bahwa seorang anak keturunan Tiongkok di-bully atau dijauhkan dari anak-anak lainnya di sekolahnya. Beberapa tempat makan di Vietnam sampai diberi tanda dilarang masuk untuk orang China. Di Indonesia sendiri banyak warga Natuna yang menolak kedatangan WNI dari Wuhan. Mereka protes karena ketakutan warga terhadap coronavirus serta banyaknya hoax yang beredar.

 

Je Suis pas un virus (Saya bukan virus)

Saat coronavirus sedang ramai dan diskriminasi semakin wajar, seorang Asia yang tinggal di Perancis membuat tagar tandingan di Twitter yaitu #jesuispasunvirus yang artinya “Saya bukan virus”. Tagar tersebut dibuat untuk melawan sikap rasial. Pasalnya, Seorang siswa asal China di Strasbourg diteriaki oleh seorang perempuan yang mengatakan untuk tidak menyentuh alpukat yang ingin dia beli. 

Akhirnya banyak pemberitaan serta informasi tentang coronavirus yang simpang siur telah memunculkan xenophobia. Xenophobia adalah ketakutan terhadap orang-orang dari negara lain atau orang yang dianggap asing. Walikota Toronto menyampaikan peringatan terhadap kepanikan warga kepada coronavirus. Dia menyatakan untuk berdiri bersama komunitas China melawan stigma dan diskriminasi. Coronavirus memang muncul dari Wuhan, namun bukan berarti semua warga Cina menjadi penyebabnya. 

Jika informasi tidak disaring serta dipilah, virus yang mematikan bukan hanya membunuh orangnya saja. Hak hidup seseorang juga bisa dimatikan, apalagi jika orang tersebut termasuk golongan minoritas. Gelombang penolakan warga Tiongkok seharusnya bisa diredam, apalagi jika ada alasan karena takut tersebarnya coronavirus. Karena seharusnya kita melawan virusnya, bukan orangnya.

 

Referensi:

  1. https://tirto.id/virus-corona-hari-ini-1368-meninggal-60329-terinfeksi-covid-19-eyF3?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Terkait
  2. https://www.liputan6.com/global/read/4174787/kematian-akibat-virus-corona-22-persen-total-sembuh-2780
  3. https://news.detik.com/internasional/d-4892713/lebih-dari-40-ribu-orang-terinfeksi-virus-corona-3281-pasien-sembuh/
  4. https://tirto.id/gelombang-diskriminasi-dan-rasisme-yang-muncul-akibat-hoaks-corona-ewFs
  5. https://news.cgtn.com/news/2020-02-01/-No-Chinese-Coronavirus-panic-fuels-racism-outbreak-NJ5voRyBtC/index.html
Share This
Scroll to Top
5 Inklusif

Tetap Terhubung!

Berlangganan Nawala Kami untuk mendapatkan kabar dan informasi terbaru.