Mixtape untuk Pride Month

© Pamflet Generasi/

Masyarakat kita masih menganggap orientasi seksual selain heteroseksual sebagai penyakit sementara orangnya dianggap tidak bermoral. Martabat orang-orang LGBT di Indonesia direnggut dan kemanusiaannya tidak diakui. Akibatnya, mereka sering terkena diskriminasi, persekusi, dan kriminalisasi. Kenapa ya negara kita tidak bisa menerima keberagaman gender dan seksualitas? Dan kenapa ada negara lain yang bisa? Jangan-jangan memang benar kalau LGBT itu produk budaya barat(?)

Amy Adamczyk, seorang profesor sosiologi dari City University, New York, memaparkan bahwa terdapat tiga faktor yang sering dihubungkan dengan tingkat penerimaan suatu negara terhadap LGBT, yakni pertumbuhan ekonomi, demokrasi, dan agama. Amy menguraikan bahwa negara-negara miskin cenderung menolak LGBT. 

Pada negara-negara miskin, kurang terjaminnya kebutuhan dasar membuat orang-orang menjadi saling bergantung satu sama lain. Kebergantungan ini menyebabkan munculnya loyalitas yang kuat dalam kelompok, sehingga hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai tradisional seperti LGBT susah diterima. (Tapi saya sangsi karena kalau kita timbang lebih jauh ke belakang, nilai tradisional di negara-negara miskin kebanyakan ditanamkan oleh bangsa penjajah yang sekarang menjadi negara-negara maju).

Faktor demokrasi juga memegang peranan. Semakin suatu negara menjamin kebebasan berekspresi warganya, semakin besar penerimaan yang ada untuk LGBT. Sementara itu, peranan agama dalam negara menjadi penyetir nasib warganya yang LGBT. Eropa Barat, dengan tingkat keagamaan yang rendah, menjadi wilayah yang paling banyak melegalkan pernikahan sejenis. Negara-negara di Asia dan Afrika, di sisi lain, masih banyak yang memusuhi LGBT karena bertolak belakang dengan nilai keagamaan. Terdapat beberapa pengecualian, seperti Cina, yang meskipun bukan negara religius tetapi tidak toleran terhadap kelompok LGBT.

Jadi memang benar kalau LGBT itu dari barat? Kalau sebagai istilah, iya benar, tepatnya dari bahasa Inggris. Tapi konsep mengenai keberagaman seksualitas sudah lama ada di Indonesia, salah satunya dalam seni pertunjukan. Hanya saja sekarang kita seolah lupa dengan sejarah keberagaman itu, lalu menyebut LGBT sebagai produk asing yang mengancam identitas bangsa. Bahkan sudah separah sampai sebuah partai politik oposisi harus menganulir kritiknya mengenai kebijakan diskriminatif terhadap kelompok LGBT setelah diserang oleh kelompok populis sayap kanan.

Kalau sudah begini, apa yang bisa kita lakukan? Sepertinya sulit untuk dijawab ketika dari akar rumput sampai parlemen sudah anti keberagaman. Tapi yang jelas Pride Month adalah waktu untuk mengangkat martabat orang-orang LGBT. Lin da Quebrada, seorang rapper transpuan dari Brazil, bilang kalau musik punya peranan penting dalam membentuk pemikiran. Saya juga percaya kalau musik bisa mempengaruhi opini pendengarnya. Oleh karena itu saya menyusun mixtape lagu-lagu Top 40 yang makna dari lirik atau videonya mengekspresikan dukungan untuk keberagaman gender dan seksualitas. Selamat menikmati.

1. Hozier – Take Me to Church

Hozier menulis lagu ini curahan rasa frustrasinya terhadap dogma Katolik yang ia rasa terlalu mendominasi kehidupan sosial politik Irlandia. Liriknya sangat sinis terhadap dogma gereja, terbaca lewat bait 

Take me to church

I’ll worship like a dog at the shrine of your lies

Sementara itu video yang menemani lagu ini menggambarkan kehangatan sepasang kekasih yang kemudian dirusak oleh sekelompok homofobik. Lirik yang sebelumnya ditujukan untuk dogma gereja kemudian menjelma lebih kuat karena penceritaan videonya. Salah satu bait yang paling mengena adalah “There is no sweeter innocence than our gentle sin“. Aduh…

Kombinasi lirik dan video dari Take Me to Church membuat miris penikmatnya, tapi juga menyadarkan realitas mengenai LGBT yang masih belum mendapatkan tempat yang layak di masyarakat.

2. Macklemore & Ryan Lewis – Same Love (feat. Mary Lambert)

Lagu ini pada dasarnya mengutarakan kejengkelan Macklemore pada dunia hip hop yang menurutnya masih homofobik. Liriknya mencerminkan perjalanan dan pandangan personal Macklemore. Selain itu ia juga menyebutkan pamannya yang gay dalam lirik.

Nah, yang ini bertolak belakang dari sebelumnya. Videonya menggambarkan semacam hikayat atau perjalan hidup seorang pria gay mulai dari bayi sampai menua dengan suaminya. Meskipun happy ending, menurut saya video ini berhasil menceritakan pengalaman hidup LGBT kepada orang-orang non-LGBT dengan baik. Selain itu videonya juga memenangkan MTV VMA 2013 untuk kategori Best Video with a Social Message.

3. Lady Gaga – Born This Way

Lady Gaga memang sudah menjadi gay icon lewat musik dan performansnya. Lady (Lady sendiri yang bilang untuk memanggil dia Lady) menulis lagu ini dalam sepuluh menit. Secara garis besar lagu ini merayakan kebebasan dan penerimaan diri.

 I’m beautiful in my way

‘cause God makes no mistakes

I’m on the right track, baby

I was born this way. 

Lady terinspirasi oleh lagu yang dinyanyikan Carl Bean, seorang pastor gay, berjudul I Was Born This Way. Lewat Born This Way, Lady mencoba memberikan validasi kepada para little monsters, sebutan untuk para penggemarnya, yang kebanyakan LGBT.

4. Mary Lambert – She Keeps Me Warm

Lagu ini adalah pengembangan dari kolaborasi Mary dengan Macklemore & Ryan Lewis dalam lagu Same Love. Dalam pengembangan ini ia menceritakan pengalamannya tubuh besar sebagai lesbian di lingkungan Kristen. 

Bait “I’m not crying on Sundays, I’m not crying on Sundays” mengutarakan kegelisahannya dalam menyatukan jati diri sebagai seorang penganut Kristen sekaligus lesbian.

Lagu ini mengambil tempo lebih lambat daripada Same Love, dan mungkin oleh karena itu liriknya menjadi lebih emosional. Oh iya, mungkin musik videonya bisa menginspirasi modus kamu untuk PDKT ke gebetan.

5. Christina Aguilera – Beautiful

Beautiful ditulis oleh Linda Perry, seorang penulis lagu lesbian. Lagu ini mengambil bahasan penilaian diri dan kegelisahan akibat kata-kata dan penilaian orang lain. Liriknya mengajak kita untuk tidak mengindahkan semua itu dan berfokus pada diri kita sendiri

You are beautiful

No matter what they say

Words can’t bring you down

Sementara itu, videonya menggambarkan orang-orang dari berbagai latar belakang dengan kegelisahan mereka masing-masing, termasuk sepasang gay dan seorang transpuan. Dengan menampilkan dua gambaran LGBT tersebut, video ini termasuk berani pada zamannya. Sehingga tidak mengherankan kalau lagu ini menjadi LGBT anthem dan mendapatkan penghargaan Special Recognition dari GLAAD Media Award, sebuah ajang penghargaan untuk representasi LGBT dalam media.

6. Sara Bareilles – Brave

Jika kita dengarkan dengan santai, lagu ini mungkin akan dinikmati oleh sejuta telinga dan lebih. Musiknya bikin gerak, suara penyanyi merdu, dan vibe-nya positif–tanpa cela. Tapi, jarang yang tahu kalau Sara Bareilles menulis lagu ini setelah terinspirasi oleh seorang teman dekatnya yang mengalami kesulitan untuk coming out atau melela. Lagu ini adalah lambang dukungannya kepada kelompok LGBT untuk lebih berani mengekspresikan diri, yang ia ungkapkan dengan cara yang sangat kalem.

But I wonder what would happen if you

Say what you wanna say

And let the words fall out

Honestly, I wanna see you be brave

Nah, kira-kira berapa banyak pendengar yang meruqiyah telinga mereka ya setelah mendengar informasi di atas? Hahaha.

7. Janelle Monae – Make Me Feel

Dengan tempo cepat dan beat yang menempel di kepala, Make Me Feel adalah sebuah lagu yang seksi. Video yang menyertai single ini menggambarkan Janelle Monae yang kebingungan memilih laki-laki atau perempuan, lalu memutuskan untuk memilih keduanya. 

Liriknya sendiri mengandung ambiguitas: “It’s like I’m powerful with a little bit of tender“. Kalau kita rangkai dengan bait-bait yang lain, seperti “Can’t be explained, but I can try for you” serta “An emotional, sexual bender“, maka sepertinya lirik lagu ini sedang menceritakan seseorang yang baru saja keluar dari heteronormativitas. Dilengkapi dengan video yang tidak kalah seksi, lagu ini dijuluki bisexual anthem.

8. Hayley Kiyoko – Girls Like Girls

Musik dan suara Hayley Kiyoko dalam lagu ini sangat sensual. Hayley, yang seorang lesbian, membuat lagu ini untuk menantang narasi budaya pop mengenai para laki-laki yang saling rebut pacar perempuan dengan memutarbalikkan situasinya menjadi perempuan yang mencuri pacar perempuan dari seorang laki-laki. Musik videonya pun juga tidak kalah sensual, dan menggambarkan persis seperti liriknya. “Girls like girls like boys do, nothing new“.

9. Troye Sivan – Heaven (feat. Betty Who)

Menurut Troye Sivan dalam tweet-nya, ini adalah lagu paling penting miliknya karena mengungkapkan perjuangannya untuk melela dan bagaimana satu tindakan itu akan mengubah hidupnya seterusnya. Apakah Tuhan akan membencinya?

Without losing a piece of me

How do I get to heaven?

Without changing a part of me

How do I get to heaven?

Sementara itu, musik videonya menggambarkan Troye Sivan yang menyanyi sambil saling peluk dengan seorang laki-laki diselangi klip-klip Pride dan perjuangan pergerakan LGBT.

10. Panic! At The Disco – Girls / Girls / Boys

Lagu ini menceritakan hubungan segitiga antara seorang laki-laki dan dua perempuan. Mungkin ini adalah semesta paralel dari Girls Like Girls milik Hayley Kiyoko ketika masing-masing pihak sudah saling rekonsiliasi hahaha. Lagu ini sendiri terinspirasi dari pengalaman threesome pertama sang vokalis, Brendon Urie, yang juga pernah bereksperimen dengan laki-laki. Kalau sebelumnya mendengarkan lagunya saja sudah ingin gerak, setelah tahu inspirasi di baliknya kira-kira ingin apa lagi ya?

11. Rihanna – Te Amo

 

Saya suka jengkel ketika mendengar seseorang melakukan song cover lalu mengubah beberapa lirik lagu tersebut supaya sesuai dengan gender atau preferensi seksualnya, karena kadang lirik barunya terlihat maksa malah merusak lagu itu sendiri. Apakah menyanyikan liriknya aslinya akan otomatis mengubah gender atau orientasi si penyanyi?

Rihanna, di sisi lain, malah melakukan yang sebaliknya. Ia adalah seorang heteroseksual, tetapi lirik lagu ini menceritakan hubungan dua perempuan, satu mengejar yang lain (Rihanna) dan mengatakan, “Te Amo” (bahasa Spanyol, aku sayang kamu) tetapi Rihanna tidak merasakan hal yang sama. Alih-alih menjadi kaum pada paragraf sebelumnya, Rihanna malah bermain total dalam musik videonya (momen in your face banget).

12. Katy Perry – I Kissed A Girl

Saya ingat sekali ketika masih SMP, lagu ini adalah favorit gebetan saya yang kebetulan sangat religius. Hmmmm wow. Tetapi sebenarnya lumrah saja kita tidak awas dengan makna lagu ketika pikiran kita kebanjiran dengan musiknya saja, misalnya Gloomy Sunday yang sebenarnya membicarakan dampak perang tetapi kita malah takut karena musiknya seram. Genre pop rock yang populer dan lagu ini sendiri yang enak diterima oleh setiap telinga mungkin menjadi alasan kenapa makna liriknya seolah kabur.

13. Brockhampton – Something About Him

Lagu ini adalah surat cinta pentolan Brockhampton, Kevin Abstrack, kepada pacarnya, Jaden Walker. Walaupun hanya sepanjang satu setengah menit, siapa yang tidak mau diberikan lagu yang khusus didedikasikan untuk kita?

Spotify Link:

 

Share This
Scroll to Top
5 Inklusif

Tetap Terhubung!

Berlangganan Nawala Kami untuk mendapatkan kabar dan informasi terbaru.