Sejarah Pride Month

Sejarah Pride Month
© Pamflet Generasi/ Muhammad Rizki

Sejak tahun 1970, bulan Juni diperingati sebagai periode perayaan Pride Month. Kalau teman-teman belum tahu, perayaan ini dilakukan sebagai bentuk peringatan perlawanan komunitas gay terhadap polisi yang terjadi di Stonewall Inn, New York.

Stonewall Inn adalah nama sebuah bar di Christopher Street yang menjadi tempat khusus bagi komunitas gay, lesbian, crossdresser untuk berkumpul atau sering disebut sebagai gay bar. Mengapa ada bar khusus gay? Pada masa itu, terdapat sebuah aturan yang tidak memperbolehkan laki-laki atau perempuan gay untuk berkumpul di tempat umum. Berangkat dari logika ini, mereka juga tidak boleh disajikan minuman beralkohol di tempat umum seperti bar. Untuk bisa berkumpul di tempat umum, muncullah bar-bar seperti Stonewall Inn ini.

Pada Jumat malam, tanggal 28 Juni 1969, polisi melakukan penggerebekan ke Stonewall Inn. Ini adalah kali kedua polisi mendatangi bar tersebut. Namun, pada hari itu komunitas gay memilih untuk melawan polisi dan menolak diperlakukan seperti kriminal. Perlawanan awalnya dimulai oleh beberapa orang dari kerumunan yang terbentuk di depan halaman bar. Teriakan seperti “Gay Power” dan “We shall overcome!” mulai terdengar dan menyulut ratusan orang lain untuk turut melawan. Insiden ini berujung pada kerusuhan yang kemudian berlanjut sampai selama tiga hari. Kerusuhan Stonewall Inn akhirnya dijadikan momentum sejarah untuk memperingati kemenangan gerakan LGBT di Amerika Serikat.

Preseden

Kalau kita melihat lebih luas lagi, kerusuhan yang terjadi pada 28 Juni 1969 malam di Stonewall Inn bukanlah perlawanan pertama yang muncul pada masa itu. Gerakan gay rights sudah mulai digalakkan beberapa tahun sebelumnya. Berbagai hal yang terjadi di tahun 1960-an mendorong semakin kuatnya pergerakan LGBT pada masa itu, seperti Black power movement, feminisme gelombang kedua, dan protes melawan Perang Vietnam. Generasi muda pada masa itu banyak mendorong perubahan sosial termasuk dalam hal kebebasan ekspresi seksual.

Penggerebekan oleh polisi adalah bentuk rutin opresi terhadap komunitas LGBT pada masa itu. Di balik opresi ini, terdapat budaya korupsi yang juga merajalela pada saat itu. Stonewall Inn dan beberapa gay bar lainnya biasanya dimiliki oleh mafia yang kemudian menjadi “pelindung” kaum LGBT dari polisi namun dengan satu syarat, mereka harus membayar biaya keamanan. Biasanya, mereka yang belum membayar keamanan akan menjadi target penggerebekan polisi selanjutnya.

Beberapa kali, komunitas LGBT berhasil melangsungkan protes terhadap penggerebekan bar oleh polisi.

Di Kota San Fransisco, para aktivis melakukan aksi protes terhadap polisi pada malam tahun baru Desember 1965. Setahun berikutnya, terjadi kerusuhan di Compton’s Cafetaria sebagai bentuk protes terhadap kolusi antara pihak restoran dengan kepolisian.

Di Kota Los Angeles, komunitas LGBT juga pernah melakukan protes kepada polisi pada tahun 1967. Sebanyak empat ratus orang berkumpul dan berdemonstrasi menolak penggerebekan yang dilakukan di bar Black Cat. Beberapa waktu kemudian, polisi membubarkan klub malam The Patch yang kemudian direspon dengan aksi berjalan ke alun-alun kota, dengan membawa bunga dan menyanyikan lagu pergerakan hak sipil “We shall overcome.”

Dikenang sebagai Kemenangan

Stonewall Inn memang bukan protes yang pertama kali dilakukan oleh komunitas LGBT. Beberapa kali, telah terjadi aksi-aksi lokal di berbagai kota. Bahkan, komunitas LGBT di Philadelphia telah melaksanakan protes tahunan sejak awal 1965. Protes ini dilakukan dengan picketing di depan Aula Kemerdekaan 4 Juli, untuk menentang perlakukan diskriminatif oleh negara.

Lalu apa yang berbeda dengan kerusuhan Stonewall Inn?

Sebagai sebuah insiden, Stonewall Inn juga memiliki karakteristik khusus yang membuat momentumnya berbeda dari protes-protes lain. Saat kerusuhan muncul, berita bahwa komunitas LGBT melakukan perlawanan kepada polisi dengan mudah tersebar ke banyak tempat karena lokasi bar yang dekat dengan beberapa telepon umum. Ditambah lagi, posisi Christopher Street yang menghubungkan banyak noda transportasi antarkota membuat orang-orang yang ingin melihat langsung kerusuhan bisa datang dengan cepat di pagi harinya. Kelebihan ini membuat Stonewall Inn mendapat banyak perhatian aktivis dan juga media.

Namun, satu alasan penting mengapa Stonewall Inn dilihat sebagai titik balik pergerakan LGBT adalah karena para aktivis memilih untuk bersama-sama mengenang momentum kerusuhan tiga hari tersebut sebagai wujud gerakan. Kota New York memiliki banyak sosok aktivis LGBT yang terhubung satu sama lain dalam jaringan gerakan dan telah melakukan banyak aksi protes. Kelebihan ini membuat mereka mampu secara serentak menyepakati peringatan Stonewall Inn. Pada bulan November 1969, para aktivis yang telah menggelar protes tahunan di Philadelphia sepakat untuk mengubah tanggalnya sesuai dengan waktu kerusuhan Stonewall Inn. Rencana peringatan ini kemudian disebarkan ke komunitas aktivis LGBT di kota-kota lain, seperti Chicago dan Los Angeles yang juga sudah mendengar kabar mengenai kerusuhan tersebut.

Akhirnya, parade gay pride pertama dilaksanakan di Los Angeles, New York, dan Chicago pada tahun 1970. Aksi serentak ini menyulut bukan hanya kota lain di Amerika Serikat tapi juga tiga puluh negara lain untuk turut melakukan perayaan “gay liberation.”

Parade Pride Month yang mendunia dan masih dirayakan hingga saat ini adalah hasil kemenangan dari aksi terkoordinasi oleh para aktivis 1960-an di Amerika Serikat. Kalau bisa disimpulkan, keberhasilan ini merupakan hasil perpaduan dari momentum perlawanan yang luas dan besar dengan kesiapan aktivis untuk mengorganisasikan diri.

Referensi:

Ann Basum, 2015, “Stonewall: Breaking Out in the Fight for Gay Rights,” Viking Books for Young Readers: New York.
Elizabeth A. Armstrong dan Suzanna M. Crage, “Movements and Memory: The Making of the Stonewall Myth,” American Sociological Review Vol. 71, No. 5 (Oct., 2006), pp. 724-751.
Greggor Mattson, “The Stonewall Riots Didn’t Start the Gay Rights Movement, ” JSTOR Daily, 12 Juni 2019, diakses dari https://daily.jstor.org/the-stonewall-riots-didnt-start-the-gay-rights-movement/.

Editor: Fian Kurniawan

Share This
Scroll to Top
5 Inklusif

Tetap Terhubung!

Berlangganan Nawala Kami untuk mendapatkan kabar dan informasi terbaru.