SJW, You’re Too Good to be True!

For the longest time I know, I am so embarrassed when it comes to admitting that I am actually the SJW in my own social media account . Sepenggal pengakuan yang hadir dalam lubuk hati terdalam ketika membaca beberapa artikel yang membahas tentang SJW yang memiliki makna peyoratif bagi seluruh netizen di mana pun. Agaknya, mereka akan selalu kesal ketika harus berhadapan dengan ‘kami’. Lalu siapa sebenarnya SJW dan mengapa kita dianggap mengganggu ketika terlibat dalam perang argumen di media sosial. 

Social Justice Warrior (SJW) pertama kali muncul pada tahun 1991 sebagai bentuk apresiasi kepada aktivis asal Kanada, Michael Chartrand yang menentang ketidakadilan terhadap serikat buruh di masyarakat. Perjuangan dan pergerakan Michael inilah yang kemudian mendatangkan apresiasi hingga melahirkan istilah yang kemudian akhirnya mengglobal. Hingga sepuluh dekade setelahnya penggunaan SJW dimaknai dengan positif, bahkan penggunaanya untuk menggambarkan orang yang bekerja demi keadilan sosial, hal ini secara jelas merupakan sebuah pujian.  Dalam artikel How the Term ‘Social Justice Warrior’ Became an Insult, dijelaskan mengapa istilah SJW ini bergeser makna. Sejak tahun sekitar tahun 2011, SJW di platform twitter digunakan sebagai sebuah hinaan, asal-usul pergeseran makna ini sendiri masing simpang siur di antara para pengamat. Secara jelas “gelar” SJW kemudian dimaknai secara negatif. 

Lalu pada tahun 2015, istilah SJW masuk ke dalam kamus Oxford yang memiliki makna: The overly offended blindly ignorant scum of the internet whomst report anything and everything that offends them. Beberapa hal akan berkaitan mengenai SJW sebagai subkultur yang memiliki makna peyoratif dikarenakan orang-orang yang berada di dalam komunitas tersebut linked to deviant label as negative people in one place. Lalu dalam perkembangannya sendiri, SJW tidak lagi menjadi sebuah konsep namun menjadi bagian dari subkultur di tengah masyarakat suatu negara. Kehadiran SJW di media sosial ada kalanya menghadirkan cemoohan karena sikap mereka dinilai berbudi luhur, I mean let us be real no one is ever be that overly virtuous, sehingga banyak yang mengira jika SJW ini merupakan golongan orang munafik (menjadi baik agar terlihat suci dengan cara membela kebenaran). 

Beberapa hal yang ini sering kali dilakukan oleh so-called SJW yang baru mencicipi dunia aktivisme ataupun membela beberapa kelompok marjinal, tingkah mereka inilah yang kemudian memunculkan rasa ‘jijik’ oleh para netizen yang memiliki banyak pendukung yang beraliran sama. 

“Suka Ngeyel”

Kebencian orang-orang terhadap SJW ini dapat ditemukan diberbagai platform social media ketika ada suatu topik hangat yang sedang dibicarakan para SJW ini akan berusaha menunjukkan eksistensi mereka dengan memberikan tanggapan yang melawan budaya, nilai dan aturan yang telah berlaku, seperti halnya ketika membicarakan thread Bekal Suami. Beberapa SJW ini berusaha menjawab jika seharusnya seorang tidak perlu memasak hingga membuat bekal untuk suami secara gratisan karena seharusnya hal tersebut layak diberi upah yang maksimal. Dan anggapan lain oleh netizen adalah para SJW ini mudah sekali terprovokasi dan mudah sekali memberikan pendapat tak-berdasar dan argumen yang tidak ada nilainya. Padahal menurut pengamatan netizen, yang perang dengan SJW ini terkadang hanya baper karena performa debat tidak lebih hebat dan antusiasme SJW yang ‘bukan kaleng-kaleng’ inilah yang kemudian disalah artikan dan dijadikan bahan cemoohan. 

“Feminazi “

Salah kaprah selanjutnya yang dilakukan oleh para netizen ini adalah memberikan stereotip bahwa siapapun dia SJW pastilah seorang feminazi, sebutan baru para penganut feminisme. How is being a feminist is a wrong thing? Masih menjadi sebuah misteri di kehidupan saya ketika para pejuang kesetaraan gender ini harus dicemooh hanya karena berusaha menciptakan iklim yang seimbang dan penuh kedamaian. Pun ketika beberapa orang yang berusaha memberikan pembelaan dan penjelasan mendalam atas isu-isu kesetaraan, orientasi seksual, feminisme dan lainnya akan dikategorikan sebagai seorang SJW. 

Pada akhirnya para SJW ini sesungguhnya merupakan beberapa orang yang sudah ter-ilhami dalam memaknai secara mendalam, sehingga mereka berusaha mewujudkan iklim perdamaian yang sesungguhnya. Namun, masyarakat kita saja yang sangat sensitif terhadap perbedaan. Dengan arogan, para netizen yang diserang SJW ini akan mencari masa untuk melakukan perundungan,  i mean what’s cool being normal and basic. It’s hella boring! Dari tulisan inilah pada akhirnya memunculkan sebuah penerimaan kepada diri saya bahwa being SJW and Feminist is not a crime and it’ cool tho!

 

Ditulis oleh Jen

Share This
Scroll to Top
5 Inklusif

Tetap Terhubung!

Berlangganan Nawala Kami untuk mendapatkan kabar dan informasi terbaru.