Jejak Berdarah Kaum Penjajah (Film)

Februari 8, 2017 by admin in alat bantu belajar
Jejak Berdarah Kaum Penjajah (Film)

Sebagai salah satu strategi pembelajaran sejarah yang berkaitan dengan sejarah lokal, guru SMA Al-Azhar 4, Bapak Wahyudin, mencoba mengangkat kembali kisah pembantaian di Rawagede yang terjadi pada 1947. Ide untuk mengangkat peristiwa ini juga untuk merespon pernyataan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan (yang tadinya menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Kemanan), untuk membawa kasus Pembantaian Westerling ke pengadilan internasional. Luhut menyampaikan hal tersebut sebagai responnya terhadap International People’s Tribunal (IPT) 1965 yang ingin mengungkap peristiwa pembantaian pada tahun 1965 di Indonesia. Pada kenyataannya, baik Peristiwa Pembantaian Westerling maupun Pembantaian Rawagede sudah diakui sebagai kejahatan perang oleh Belanda, telah diselesaikan secara hukum, dan sudah ada ganti rugi Belanda terhadap korban-korban dari kedua peristiwa tersebut.

Film bertema peristiwa Rawagede ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif untuk memberikan informasi bagaimana kejahatan perang dan pelanggaran hak asasi manusia dapat diselesaikan, serta bagaimana pemerintah sebuah negara seharusnya bertanggung jawab terhadap pembunuhan yang pernah dilakukan atas nama negaranya. Film diproduksi dalam bentuk film dokumenter agar peristiwa dapat disampaikan secara jelas, ditambah dengan wawancara bersama penduduk di Rawagede (saat ini bernama Desa Balongsari, Karawang, Jawa Barat), serta memperlihatkan bagaimana situasi di Rawagede saat ini, enam puluh sembilan tahun setelah peristiwa pembantaian terjadi. Pamflet mempercayakan produksi film ini kepada WatchDoc Documentary sebagai satu rumah produksi film dokumenter yang sudah memiliki banyak pengalaman dalam produksi film serupa.

Film yang judul “Jejak Berdarah Kaum Penjajah” ini berdurasi 17 menit. Film ini menguak kisah pembantaian warga di Rawagede dari sudut pandang keluarga dan kerabat korban yang secara langsung menanggung akibat dari pembantaian ini. Berbagai kajian literatur termasuk wawancara terhadap korban dilakukan dengan mengunjungi Desa Balongsari untuk juga melihat makam para korban yang bernama Makam “Sampurna Raga”. Film akan menjelaskan bagaimana Pemerintah Belanda akhirnya bertanggung jawab terhadap peristiwa ini dan memberikan berbagai bentuk ganti ruginya kepada para penduduk di Rawagede.

Selain Bapak Wahyudin, film ini juga digagas oleh Bapak Jamal Arifansyah (Guru Sosiologi) dan Pak Hasan Marzuki (Guru Pendidikan Kewarganegaraan). Proses penyempurnaan konsep film dibantu juga oleh siswa SMA Al-Azhar 4, Kenji Andriano.

Leave a Comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

70-243  , 000-105  , CISM   c2010-657   PMP   300-206  , 640-692   300-115   400-201   C_TFIN52_66   1z0-808   300-115   210-060   70-463   70-412   300-320   220-902   1Z0-060   350-080   9L0-066   350-080   000-089   CCA-500   210-060   642-732   300-115   3002   70-487   JK0-022   M70-101   350-060   HP0-S42   1Z0-051   642-732   810-403   1z0-434   70-410   350-080  , 102-400   220-902   JN0-102   000-106   70-480   SSCP   1Z0-051  , MB2-704   200-120   70-532   LX0-103   400-101   220-802   70-410  , 300-206   300-208   000-104   70-534  , 70-980  , 350-018   640-916   70-488   200-310   200-125  , 70-462   300-070   70-534   70-980   JK0-022   C_TFIN52_66   2V0-621   220-901  , 200-125  , 1Z0-061   70-532  , 70-347   CRISC   000-017   350-030   PMP  , JN0-102   70-413  , 70-461   3002   EX200  , 100-101   300-208  ,

Back to Top