Mitos ‘Cover Both Sides’

Mei 14, 2020 by admin in Rubrik Artikel
Mitos ‘Cover Both Sides’

Sepertinya kita bisa sepakat bahwa ucapan “Jurnalis harus cover both sides” telah menjadi pengetahuan umum. Uniknya, istilah ‘cover both sides‘ seolah endemik di Indonesia. Halaman pertama pencarian Google mengenai istilah tersebut menampilkan situs-situs berbahasa Indonesia, padahal tiga kata penyusunnya dari bahasa Inggris. Istilah ini sering digunakan bergantian dengan ‘keberimbangan’. Pasal 1 Kode Etik Jurnalistik berbunyi, “Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.” Berimbang ditafsirkan sebagai “semua pihak mendapat kesempatan setara.”

Prinsip cover both sides menuntut jurnalis kita untuk memberikan ruang bagi masing-masing pihak yang terlibat supaya berita yang dihasilkan berimbang. Masalahnya, imbang menurut siapa? Memberi ruang untuk keberimbangan malah bisa menghalangi upaya mencari kebenaran. Penulis Chimamanda Ngozi Adichie mengilustrasikan masalah ini dengan baik: “Jika Anda memberitakan mengenai matahari yang terbit di sebelah timur, Anda tidak perlu mendengarkan suara dari sisi lain karena tidak ada sisi lain yang nyata.”

Pada 6 Mei kemarin, program Sapa Indonesia Malam di Kompas TV mengangkat topik ‘Tudingan Konspirasi di balik Korona’. Topik ini muncul dari koar-koar Jerinx, drummer Superman Is Dead, yang menuduh penyebaran virus corona adalah hasil dari konspirasi para elit global. Program tersebut menghadirkan dua pembicara, yakni Hermawan Syahputra dari Ahli Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia dan tentu saja Jerinx. Aiman, sebagai pembawa acara, meminta pertanggungjawaban klaim Jerinx dan Hermawan diposisikan sebagai suara kontra dengan memberikan sanggahan saintifik. Sementara itu, Jerinx malah sibuk merasionalkan teori konspirasi yang ia percaya.

Pemberitaan mengenai teori konspirasi di media arus utama berpotensi memberikan legitimasi terhadap gagasan yang ada di dalamnya. Dengan menghadirkan Jerinx dan memberinya ruang berbicara, alih-alih meluruskan informasi dan memberikan kebenaran kepada publik, program ini malah memberikan akses bagi teori konspirasi tersebut untuk menjangkau khalayak lebih luas. Prinsip cover both sides menjadi pelaku utama dalam keteledoran ini.

Untuk memahami apa yang salah dengan prinsip ini, kita harus mengurai hal yang berkaitan erat dengan prinsip ini, yakni objektivitas dan netralitas.

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, dua jurnalis kenamaan Amerika, dalam buku mereka Elements of Journalism (2001) memaparkan bahwa tanggung jawab utama jurnalis adalah kepada kebenaran. Kebenaran yang mereka maksud adalah kebenaran fungsional, yakni kebenaran yang bisa digunakan publik untuk mengambil keputusan dengan baik. Untuk mendapatkan kebenaran ini, jurnalis wajib melakukan disiplin verifikasi. Melalui disiplin verifikasi pula jurnalis mampu menyaring desas-desus, gosip, manipulasi untuk mendapatkan informasi yang akurat.

Verifikasi dilakukan dengan menggunakan objektivitas sebagai metodenya. Objektivitas menuntut jurnalis untuk mengembangkan metode yang konsisten dalam menguji informasi serta pendekatan yang transparan dalam memilah dan memilih bukti. Sehingga, hasil berita yang keluar dapat dipertanggungjawabkan dan publik juga bisa ikut mengawasi tingkat akurasi pemberitaan. Dengan kata lain, yang objektif adalah metodenya, bukan sikap si jurnalis.

Sayangnya, objektivitas sering disalahpahami sebagai sikap atau hasil akhir produk berita. Objektif dalam situasi ini dilihat sebagai keberimbangan porsi suara bagi masing-masing pihak, sementara muatan dan klaim dari suara-suara tersebut tidak diuji secara objektif. Sementara itu netralitas–yang berhubungan erat dengan objektivitas dalam pemahaman ini–mengisyaratkan jurnalis untuk tidak berpihak pada sisi manapun, padahal sudah jelas jurnalis sebagai pilar keempat demokrasi harus berpihak pada kepentingan publik. Akibatnya, kebenaran yang seharusnya muncul ke permukaan menjadi keruh oleh suara-suara yang tidak terverifikasi tersebut. Jurnalis, dalam miskonsepsi mengenai objektivitas dan netralitas ini, hanya sekadar juru kutip informan.

Pada akhirnya publik lah yang dirugikan karena, merujuk pada Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, tujuan utama jurnalisme adalah memberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat untuk bisa hidup bebas dan mengatur diri sendiri.

Ditulis oleh: Fian Kurniawan
Disunting oleh: Coory Yohana Pakpahan
Ilustrasi/Visual oleh: Muhammad Rizki

Leave a Comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

70-243  , 000-105  , CISM   c2010-657   PMP   300-206  , 640-692   300-115   400-201   C_TFIN52_66   1z0-808   300-115   210-060   70-463   70-412   300-320   220-902   1Z0-060   350-080   9L0-066   350-080   000-089   CCA-500   210-060   642-732   300-115   3002   70-487   JK0-022   M70-101   350-060   HP0-S42   1Z0-051   642-732   810-403   1z0-434   70-410   350-080  , 102-400   220-902   JN0-102   000-106   70-480   SSCP   1Z0-051  , MB2-704   200-120   70-532   LX0-103   400-101   220-802   70-410  , 300-206   300-208   000-104   70-534  , 70-980  , 350-018   640-916   70-488   200-310   200-125  , 70-462   300-070   70-534   70-980   JK0-022   C_TFIN52_66   2V0-621   220-901  , 200-125  , 1Z0-061   70-532  , 70-347   CRISC   000-017   350-030   PMP  , JN0-102   70-413  , 70-461   3002   EX200  , 100-101   300-208  ,

Back to Top