Stop Victim Blaming Terhadap Pengguna Narkotika

Februari 28, 2020 by admin in Rubrik Artikel
Stop Victim Blaming Terhadap Pengguna Narkotika

Hayooo di sini pada up to date di sosial media gak? Tahu kan kalau beberapa waktu lalu, salah satu figur publik dikabarkan menggunakan narkotika. Di setiap media sosial netizen beramai-ramai mengomentari kasus ini. Sayangnya, reaksi netizen yang muncul justru menyudutkan tindakan figur publik tersebut. Nah, hal ini tidak hanya sekali terjadi. Sebetulnya dalam banyak kasus, pengguna narkotika sering disudutkan atas tindakannya. Ini menunjukan adanya stigma dan budaya victim blaming yang tumbuh di tengah masyarakat.

Parahnya, enggak cuma disudutkan lewat media sosial, bagi pengguna narkotika yang sekaligus publik figur juga harus berhadapan dengan pemberitaan media mainstream. Seringnya pemberitaan dari media mainstream justru lebih banyak mengungkap masalah personal dan privat dari publik figur terkait. Pada beberapa kasus publik figur, pemberitaan yang ada justru menambah banyak stigma dan victim blaming yang harus mereka hadapi.

Stigma

Perlu diketahui jika aturan yang ada nyatanya memang menempatkan pengguna narkotika sebagai ‘pelaku’. Bahkan dengan adanya istilah ‘penyalahguna’, ‘korban penyalahgunaan’, dan ‘pecandu’ dalam aturan yang ada saat ini semakin mengaburkan status mereka sebagai korban. Dampak adanya perbedaan istilah kepada pengguna narkotika tidak sederhana. Dampak negatif yang dihadapi mulai dari buruknya penanganan hukum dan medis, buruknya perlakuan aparat hukum dan petugas medis, hingga perlakuan masyarakat yang mengekslusi pengguna narkotika.

Aturan hukum yang diskriminatif, perlakuan aparat dan petugas medis yang buruk hingga ekslusi dari masyarakat terjadi karena adanya stigma negatif yang melekat erat dengan pengguna narkotika. Munculnya cap buruk sebagai kriminal, penyakit masyarakat, hingga orang yang pantas dipenjarakan membuat para pengguna merasa semakin terpojok. Hal ini semakin menyulitkan pengguna narkotika untuk meminta dukungan dan bantuan agar bisa terlepas dari ketergantungan yang dialami. Bahkan bagi pengguna narkotika yang telah mendapatkan rehabilitasi dan kembali ke masyarakat, sangat rentan mengalami penolakan dan diskriminasi.

Victim Blaming

Selain stigma, pengguna narkotika juga harus dihadapkan dengan adanya victim blaming. Jika selama ini budaya victim blaming atau sikap menyalahkan korban lebih banyak dibahas dalam kasus kekerasan seksual. Maka penting untuk juga membahas victim blaming dalam ranah narkotika. Kenyataannya selama ini pada hampir setiap kasus narkotika, pengguna narkotika yang sebetulnya termasuk korban sering mengalami victim blaming. Victim blaming tidak hanya sebatas tindakan seseorang yang menyalahkan, menghujat, menghakimi korban kejahatan. Lebih dari itu, victim blaming menganggap kejahatan terjadi karena tindakan korban dan korban dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab atas terjadinya kejahatan tersebut.

Pengguna narkotika sering disalahkan, dihujat, dan dinilai negatif atas tindakannya menggunakan narkotika.  Ungkapan bahwa adanya perdagangan gelap narkotika karena banyaknya permintaan dari pengguna, justru mengukuhkan pengguna narkotika sebagai korban yang patut disalahkan. Ungkapan ini jelas keliru. Munculnya perdagangan gelap narkotika disebabkan karena tidak adanya atau sulitnya akses untuk mendapatkan narkotika secara legal. Bila ditarik semakin jauh, maka ini terjadi karena label ilegal yang melekat pada narkotika. Keadaan ini pada akhirnya memaksa pengguna narkotika membeli narkotika dari pengedar.

Pada akhirnya stigma dan victim blaming ini kembali berakibat buruk bagi pengguna narkotika. Pengguna narkotika menjadi enggan dan takut untuk mendatangi layanan kesehatan dan rehabilitasi, memperburuk penghargaan terhadap diri sendiri, hingga masalah kesehatan mental lainnya. Anggapan jika treatment terhadap pengguna narkotika harus tanpa adanya obat-obatan jelas salah. Justru banyak treatment rehabilitasi narkotika yang membutuhkan adanya obat-obatan.

Rehabilitasi yang baik memungkinkan pengobatan yang sesuai dan cocok bagi pengguna narkotika. Petugas medis yang biasanya adalah psikiater yang meresepkan dan memantau pengobatan serta perawatan bagi pengguna narkotika. Tidak hanya perawatan secara medis, tetapi juga terapi perilaku diberikan untuk mencapai kemungkinan rehabilitasi yang sukses. Selain mampu mengurangi hasrat hingga mencegah keinginan untuk menggunakan narkotika, ada pula dampak baik rehabilitasi lainnya. Dampak pemberian obat-obatan bagi pengguna narkotika begitu besar bahkan bisa menyelamatkan nyawa dan memulihkan kondisi mental secara bersamaan.

Itulah alasan kenapa saat kita mendengar atau mengetahui ada seseorang yang menggunakan narkotika seharusnya kita membantu dan menolong mereka. Karena mereka harus menghadapi banyak hal, mulai dari ketergantungan terhadap obat-obatan, perlakuan diskriminatif, ekslusi, stigma, hingga victim blaming. Jangan sampai kita justru ikut menyudutkan tindakan mereka, karena hal itu justru akan membawa dampak yang makin buruk bagi kondisi mereka.

Leave a Comment!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

70-243  , 000-105  , CISM   c2010-657   PMP   300-206  , 640-692   300-115   400-201   C_TFIN52_66   1z0-808   300-115   210-060   70-463   70-412   300-320   220-902   1Z0-060   350-080   9L0-066   350-080   000-089   CCA-500   210-060   642-732   300-115   3002   70-487   JK0-022   M70-101   350-060   HP0-S42   1Z0-051   642-732   810-403   1z0-434   70-410   350-080  , 102-400   220-902   JN0-102   000-106   70-480   SSCP   1Z0-051  , MB2-704   200-120   70-532   LX0-103   400-101   220-802   70-410  , 300-206   300-208   000-104   70-534  , 70-980  , 350-018   640-916   70-488   200-310   200-125  , 70-462   300-070   70-534   70-980   JK0-022   C_TFIN52_66   2V0-621   220-901  , 200-125  , 1Z0-061   70-532  , 70-347   CRISC   000-017   350-030   PMP  , JN0-102   70-413  , 70-461   3002   EX200  , 100-101   300-208  ,

Back to Top