ID | EN

Anak Muda dan Hari Kebenaran di Indonesia

Hingga hari ini masih banyak kasus pelanggaran berat  HAM yang belum dituntaskan oleh negara. Mulai dari jutaan korban pembantaian dan penahanan pasca 65, korban jiwa di kerusuhan Malari dan Tanjung Priok, belasan aktivis mahasiswa yang diculik dan dihilangkan paksa, hingga kriminalisasi terhadap masyarakat yang memperjuangkan haknya.

Masih banyak korban dan keluarga korban yang memperjuangkan haknya sebagai warga, namun sayang negara tetap abai dan menutup mata. Negara tidak menganggap pengungkapan kebenaran menjadi hal yang penting. Negara tidak menganggap perlu untuk mengangkat martabat korban pelanggaran berat HAM yang selama ini hidup penuh stigma dan diskriminasi.

Hal ini berbanding terbalik dengan pernyataan Presiden Joko Widodo yang berulangkali berjanji akan menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu. Dalam upaya pemenuhan janji tersebut, bahkan presiden memasukannya dalam rumusan Nawa Cita visi misi pemerintahan Indonesia. Akan tetapi fakta menunjukan hal berbeda, pemerintah malah ingkar atas janjinya untuk menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu, bahkan pengingkaran ini diwarnai dengan agresivitas institusi keamanan, seperti pelarangan dan pembubaran paksa berbagai inisiatif pengungkapan kebenaran yang diinisiasi secara mandiri oleh komunitas korban dan organisasi masyarakat sipil.

Padahal permasalahan pengungkapan kebenaran dan mengangkat martabat korban pelanggaran berat HAM sudah menjadi fokus komunitas internasional, melalui pembentukan Hari Kebenaran Internasional atau International Day for the Right to the Truth Concerning Gross Human Right Violation and for the Dignity of Victims oleh Majelis Umum PBB yang diperingati setiap tanggal 24 Maret.

Hari Kebenaran Internasional ini dibentuk sebagai upaya penghormatan atas tewasnya Uskup Agung Oscar Arnulfo Romero, seorang pejuang HAM dan keadilan sosial, oleh pasukan pemerintah El Salvador pada tanggal 24 Maret 1980. Peringatan ini menjadi upaya komunitas internasional untuk tidak hanya mengenang dan menghormati korban-korban pelanggaran HAM berat, tetapi sebagai daya gerak untuk mempromosikan pentingnya hak atas kebenaran dan keadilan.

Urgensi akan hak atas kebenaran dan hak atas keadilan ini bahkan ditekankan oleh Sekretaris Jenderal PP, Ban Ki-moon, yang mengatakan bahwa “hak atas kebenaran sangatlah esensial bagi korban dan masyarakat secara seutuhnya. Mengungkapkan kebenaran pelanggaran HAM masa lalu dapat membantu pencegahan pelanggaran HAM di masa depan.” Sehingga tidak ada alasan untuk memandang sebelah mata peringatan Hari Kebenaran Internasional.

Menurut Ketua KKPK (Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran) Kamala Chandrakirana memperingati Hari Kebenaran Internasional sangat penting untuk mengingatkan masyarakat bahwa kebenaran masih sangat jauh dari tangan masyarakat. Selain itu, melalui peringatan Hari Kebenaran Internasional, masyarakat juga bisa mendorong negara untuk memenuhi hak atas kebenaran dan hak atas keadilan bagi masyarakat karena negara memiliki tanggung jawab serius untuk hal itu.

Namun sayangnya, tidak seperti hari-hari besar internasional lain di Indonesia, Hari Kebenaran Internasional masih tidak diketahui secara luas di masyarakat. Media sosial tidak ramai ketika tanggal 24 Maret, karena masih banyak anak muda yang tidak tahu adanya peringatan ini. Sehingga penting untuk kita yang mengetahui, terus menyebarkannya dan membuat banyak orang mengetahui bahwa masih banyak kebenaran yang belum terungkap di Indonesia.

Bagaimana pun, anak muda adalah harapan yang nantinya menjadi penggerak peradaban. Seperti yang diungkapkan oleh Kamala Chandrakirana, “kami menaruh harapan di pundak generasi muda, karena kami sudah melihat bagaimana lembaga resmi kita mandeg, juga banyak aktor politik yang memanfaatkan persoalan pelanggaran HAM masa lalu untuk kepentingan dirinya sendiri, bukan kepentingan pengungkapan kebenaran ataupun keadilan. Artinya, perjuangan ini akan jalan terus untuk tahun-tahun kedepan, sehingga kita harus berjalan bersama generasi muda, yang memiliki nafas panjang untuk perjuangan ini dan memperbaiki peradaban.”

 

Credit foto: Kumparan/Aditia Noviansyah
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lain

Skip to content