ID | EN

Ini Itu Demokrasi: Sejarah Golput sebagai Pilihan Politis

“Seperti bau kentut saja. Rupanya tidak ada tetapi baunya ada,”

Begitulah jawaban Ali Murtopo, asisten pribadi Presiden Soeharto, saat diwawancarai oleh majalah Ekspres terkait fenomena golput yang terbit pada 14 Juni 1971. Ungkapan yang meremehkan yang tidak memiliki dasar.

Fenomena golput pertama kali muncul di Indonesia Pemilu pertama di era Orde Baru di tahun 1971. Istilah golput atau golongan putih muncul pertama kali dalam tulisan Imam Walujo Sumali, mantan Ketua Ikatan Mahasiswa Kebayoran pada 12 Mei 1971 di harian KAMI. Dalam tulisannya, Imam menulis tentang pentingnya memunculkan partai lain alternatif untuk menampung suara dari generasi muda, dan orang-orang yang tidak memilih partai-partai dan Golkar sebagai kontestan Pemilu karena pesimis dan kecewa, terutama karena banyak pegawai negeri yang dipaksa untuk memilih Golkar oleh pemerintah.

Partai tersebut akhirnya dinamakan Partai Putih, dengan gambar putih polos. Selain itu, Imam juga menganjurkan bagi siapapun yang memilih Partai Putih agar menusuk bagian putih di luar gambar tanda partai dan Golkar. Inilah yang membuat majalah Ekspres mendefinisikan golput sebagai sebuah gerakan untuk datang ke kotak suara dan menusuk kertas putih di sekitar gambar kontestan Pemilu, bukan gambarnya.

Tindakan ini nantinya akan membuat suara yang masuk jadi tidak sah. Jadi golput bukanlah tindakan tidak mencoblos karena sedang jalan-jalan atau sekedar malas belaka karena pemilih tetap pergi ke bilik suara.

Imam memang pencetus istilah golput, namun tokoh sentral dari gerakan ini adalah Arief Budiman, aktivis Angkatan ‘66, kakak kandung dari Soe Hok Gie. Menurut Arief Budiman, gerakan golput bukanlah untuk mencapai kemenangan politik, tetapi lebih untuk melahirkan tradisi di mana ada jaminan perbedaan pendapat dengan penguasa dalam situasi apapun.

 

Fenomena Golput di Berbagai Negara

Golput adalah fenomena yang terjadi di berbagai belahan dunia karena ketidakpercayaan terhadap calon pemimpin pemerintah. Seperti yang terjadi di Malaysia tahun lalu, saat Mahathir Mohamad dan Najib Razak adalah calonnya. Sekelompok anak muda Malaysia melakukan protes dengan tagar #UndiRosak yang mempromosikan gerakan golput karena mereka mengaku lelah karena tidak kunjung ada perbaikan dalam sistem pemerintahan Malaysia.

Hampir sama dengan di Indonesia, mereka tetap hadir ke tempat pencoblosan untuk merusak kertas suara, sesuai dengan tagar #undiRosak yang berarti rusak kerta undi atau kertas suara. Hal ini dilakukan supaya partai politik tidak memanfaatkan kertas suara yang kosong untuk melakukan kecurangan.

Hal serupa juga terjadi di Italia, bahkan gerakan golput di sana mampu menjadi mesin politik baru, yaitu partai politik Five Star Movement (M5S) yang berdiri tahun 2009. Partai ini didirikan oleh komedian bernama Beppe Grillo, dengan mengusung ideologi anti pemerintahan. Partai ini bahkan telah membuat langkah-langkah signifikan untuk menjalankan pemerintahan.

Jika melihat gerakan-gerakan golput ini, sepertinya tidak layak jika golput dikatakan sebagai sebuah ekspresi apatis dan anti demokrasi. Sebaliknya, gerakan-gerakan ini malah memperlihatkan kesadaran dan pemahaman politik yang ada di negara masing-masing.

 

Penutup

Dalam buku berjudul Mengapa Kami Memilih Golput yang terbit pada 2009, Gus Dur mengatakan “Kalau tidak ada yang bisa dipercaya, ngapain repot-repot ke kotak suara? Daripada nanti kecewa.” Ungkapan beliau seolah memberikan restu terhadap gerakan golput di Indonesia.

Hingga hari ini, masyarakat memang masih menganggap golput sebagai sebuah kekeliruan dan sikap apolitis. Padahal golput adalah sebuah tindakan politis yang dilakukan oleh seseorang secara sadar untuk tidak memilih. Dari gerakan di masa Orde Baru, di Malaysia, dan di Italia, kita melihat gerakan golput memiliki tujuan, target, dan pertimbangan yang jelas dalam melakukan tindakannya. Sehingga kita perlu sama-sama sadar bahwa golput bukan tindakan karena alasan teknis semata, seperti malas, ketiduran, sedang jalan-jalan, dan hal remeh lainnya.

 

Referensi

Fandy Hutar. 2018. Bagaimana Golput Muncul Pertama Kali dalam Sejarah Indonesia. Tirto.id. Dapat diakses melalui https://tirto.id/bagaimana-golput-muncul-pertama-kali-dalam-sejarah-indonesia-cS9E

Rinto Pangaribuan. 2017. Pilkada, Golput, dan Si Anak Tiri Demokrasi. Geotimes.co.id. Dapat diakses melalui https://geotimes.co.id/kolom/politik/pilkada-golput-dan-si-anak-tiri-demokrasi/

Tim Redaksi. 2017. Sketsatorial: Sejarah Golput Dalam Pemilu Indonesia. Rappler.com. Dapat diakses melalui https://www.rappler.com/indonesia/berita/157558-golput-partisipasi-masyarakat-pemilu-pilkada
BBC. 2018. Five Star and League: Italy populist leaders close to government deal. BBC.com. Dapat diakses melalui https://www.bbc.com/news/world-europe-44066711

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lain

Skip to content