ID | EN

Bromance di Film dan Serial Televisi

bromance-web-cover-e1624947955441-1024x406

“Kalo berotot, itu baru laki banget!”
“Anak laki-laki gak boleh nangis!”
“Masa cowok ke toilet bareng-bareng sih?” 
“Curhat melulu kayak cewek.”

Kalimat-kalimat tersebut adalah kepingan-kepingan puzzle dari bagaimana masyarakat kebanyakan mengartikan laki-laki dan maskulinitas. Seringnya, laki-laki dipaksa untuk menjadi tangguh, tidak boleh mengalami momen rentan, menghindari menunjukkan emosi terutama kesedihan yang dilihat sebagai kelemahan, dan aturan main lainnya. Sebagai perempuan, tentunya saya sangat berduka dengan keadaan ini. Sedih, masa teman laki-lakiku ga pernah ngerasain leganya habis curhat dan nangis sama temannya?

Salah satu contoh definisi usang maskulinitas ini terlihat jelas adalah pada olimpiade 2016 yang lalu. Kalau kamu memenangkan sesuatu yang sudah lama menjadi mimpimu, apa yang akan kamu lakukan untuk merayakannya? Berteriak, melompat kegirangan, menghubungi dan memeluk orang terkasih, memeluk teman satu tim dan pelatih? Hal-hal tersebut sangat wajar dilakukan ketika kamu sedang merasa positif. Hal itu pulalah yang dilakukan oleh Jack Laugher dan Chris Mears yang merupakan tim loncat Indah asal Inggris. Setelah mendapatkan hasil bahwa mereka mendapatkan medali emas, mereka berpelukan erat dengan haru. Tak berapa lama, kedua pelatihnya juga memeluk kedua laki-laki itu. Reaksi penuh rasa bangga dan haru ini tentu saja tidak disambut baik oleh semua orang, karena segera setelahnya sebuah media lokal Inggris menyudutkan reaksi tersebut dibandingkan atlet negara lain yang merayakan kemenangan dengan manly pat on the back (menepuk punggung dengan maskulin/jantan). 

Sumber gambar: Pinknews.co.uk

Eits, tapi tunggu dulu. Ternyata akhir-akhir ini pemahaman tentang laki-laki dan maskulinitas yang tidak boleh menjadi rentan sudah mulai ada tandingannya. Tidak jarang, kita sudah melihat momen-momen di televisi, film, buku, dan produk media lainnya yang menampilkan karakter laki-laki yang terbuka dengan teman laki-laki lainnya. Hubungan non-seksual yang sangat dekat antar laki-laki sering disebut sebagai bromance. Kata bromance ini merupakan gabungan dan kata ‘brother’ dan ‘romance’, yang menekankan pentingnya ikatan emosional pada hubungan ini. 

Menurut kamus Merriam-webster, penggunaan kata bromance dimulai semenjak tahun 2001. Pada dekade itu pulalah bromance di film dan serial televisi mulai banyak terlihat. Persahabatan antar laki-laki yang biasanya digambarkan tangguh, tidak banyak bicara, tidak berbagi perasaan dan momen kerentanan, kini berubah menjadi persahabatan yang berani tertawa dan menangis bersama serta mau mendiskusikan isu-isu personal dan emosional. 

Mulai dari karakter Ross, Joey, dan Chandler di serial televisi Friends, Harry dan Ron di film Harry Potter, Otis dan Eric di serial Sex Education, secara terbuka menunjukkan persahabatan, intimasi, dan ikatan emosional. Serial Asia pun telah cukup lama mengeksplorasi bromance, mulai dari karakter Cho Hangyeol dan para barista di serial Coffee Prince, Geng Ssangmundong dari Reply 1988, hingga para dokter di Hospital Playlist

Sumber Gambar [Friends, 1994-2004], [Harry Potter, 2001-2011], [Sex Education, 2019-sekarang], [Coffee Prince, 2007], [Reply 1988, 2015], [Hospital Playlist, 2020-sekarang]

Sebenarnya, kenapa sih bromance di film dan serial televisi terkenal? Kita bisa melihatnya dari sudut pandang pembuat film/serial dan juga sudut pandang penonton. Bagi para pembuat film dan serial televisi ini, membawa momen ikatan emosional ke layar lebar dan layar perak mendorong interpretasi terbuka bagi para penontonnya. Penulis naskah dan sutradara tidak akan mendikte penonton untuk menilai seperti apakah hubungan orang yang terlibat pada bromance ini, melainkan setiap obrolan kecil dan tingkah laku mereka bisa dilihat sebagai hubungan seperti saudara, pertemanan yang sangat dekat, atau adanya potensi hubungan romantis. Interpretasi terbuka ini membuat para pembuat film dan serial televisi dapat menjaring lebih banyak penonton dari berbagai macam identitas dan preferensi. 

Namun ternyata hal ini tidak sepenuhnya baik, lho! Adegan karakter laki-laki yang sangat dekat sehingga menimbulkan interpretasi keduanya mungkin menjalin hubungan romantis bisa dikategorikan sebagai queer-baiting, yakni teknik marketing yang digunakan untuk menjaring penonton dengan identitas LGBTQ+. Misalnya, ketika dua karakter laki-laki dalam suatu film digambarkan memiliki hubungan emosional yang sangat dalam dan intens, dialog-dialog yang memiliki makna keduanya saling tertarik, atau adegan yang membuat penonton mengira keduanya berpotensi memiliki hubungan romantis, tetapi sebenarnya hubungan ini tidak pernah diperjelas oleh penulis naskah. Hal ini tentu saja berbahaya, karena tidak memberikan representasi komunitas LGBTQ+ yang kuat di media, dan mengesankan kisah dari teman-teman LGBTQ+ tidak dapat diceritakan segamblang dan seterbuka kisah teman-teman heteroseksual. 

Akan tetapi, dari sudut pandang penonton, bromance sangat diminati karena memberikan makna baru dari persahabatan antar laki-laki. Bromance memberikan ruang bagi laki-laki untuk mengekspresikan emosinya dengan terbuka dan sehat kepada teman-temannya. Keterbatasan ekspresi emosi dan definisi tradisional dari maskulinitas yang dianggap berbahaya ini telah lama dianggap menjadi faktor risiko terjadinya masalah kesehatan mental pada laki-laki. 

Pada tahun 2015, ditemukan bahwa laki-laki di Inggris tiga kali lipat lebih rentan melakukan tindakan bunuh diri. Akan tetapi, angka ini adalah yang terendah dibandingkan dengan laki-laki yang dibesarkan tahun 1980-an. Ahli psikologi juga telah menemukan bahwa hubungan pertemanan antar laki-laki mendorong adanya keterbukaan diri, menawarkan hubungan yang tidak menghakimi, stabilitas emosi dan kejujuran. 

Adanya adegan bromance pada film dan serial televisi kembali memantik diskusi mengenai definisi maskulinitas dan norma gender yang banyak kita dengar sehari-hari, seperti dari laki-laki tidak boleh menangis. Pada akhirnya, penulisan bromance yang baik dan sehat pada film dan serial televisi dapat menjadi salah satu cara untuk kembali melawan kultur patriarki yang berbahaya bagi laki-laki, perempuan, dan gender non-biner. 

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lain

Skip to content