Ulasan Non-Sinefil: Everything Everywhere All at Once

Ulasan non-sinefil EEAAO

Peringatan: Mengandung spoiler atau bocoran dari film Everything Everywhere All at Once. 

Pernah dengar soal multiverse? Multiverse atau multisemesta merupakan gagasan yang menawarkan kemungkinan adanya sekumpulan semesta lain di luar semesta yang sedang kita tinggali. Dalam  “Everything Everywhere All at Once” , film karya Daniel Kwan dan Daniel Scheinert, tema multiverse dikemas dengan cara segar yang tidak pernah ditemukan pada film-film lainnya. 

Film karya duo Daniel ini menceritakan tentang sebuah keluarga imigran dari Cina yang menjelajah multiverse untuk menyelamatkan anak perempuannya. Ketika keluarga ini pergi ke kantor pajak, Evelyn, si ibu, dihubungi oleh Alpha Waymond, si bapak dari alam semesta (atau yang disebut sebagai verse) Alpha, dan dimintai bantuannya untuk menyelamatkan multiverse dari Jobu Tupaki, sebuah makhluk yang dibentuk oleh Alpha Evelyn. Ternyata, Jobu Tupaki adalah Joy, anak perempuan Evelyn, versi Alphaverse. Ini membuat  Evelyn menolak untuk membantu Alpha Waymond, meskipun Evelyn dan Joy memiliki love-hate relationship. Dinamika keluarga ini membuat kita merasa lebih dekat dengan karakter-karakter di film ini.

Konsep multiverse dalam film ini merupakan konsep multiverse hasil dari pilihan-pilihan yang kita pilih setiap saatnya. Setiap pilihan kita merupakan variabel tersendiri yang membentuk diri kita menjadi berbeda-beda di berbagai verse. Hal ini kemudian menuntut Evelyn untuk berdamai dengan pilihan-pilihan yang telah ia pilih di masa lalu dan untuk tidak tergoda menjadi Evelyn versi verse lain.

Film “Everything Everywhere All at Once” menjadi semakin menarik karena berhasil memuat cerita keluarga serta topik filsafat, dan mengemasnya sebagai film science fiction yang dibalut dengan bumbu komedi. Selain itu, seperti judul dan posternya, film ini sangat padat dan rusuh, namun disajikan dengan sangat rapi dan menarik. Selama 2 jam 20 menit, penonton diajak untuk bertualang menjelajahi berbagai alam, sembari tertawa, menangis, berpikir, dan bahkan merenungkan hidupnya. Penonton juga disuguhkan dengan audio dan visual yang sangat mengagumkan. Mulai dari pemilihan baju karakter-karakternya, latar ceritanya, hingga scoring yang menambah kesan menawan pada alur filmnya. Tidak heran jika film ini sukses membuat penonton tidak dapat berkata-kata seusai menontonnya.

Kalimat “the less sense it makes, the better” yang mengiringi film ini menjadi kalimat yang sangat cocok untuk mendeskripsikan keseluruhan film “Everything Everywhere All at Once”. Jangan bersedih kalau belum sempat menonton film ini di bioskop, karena kamu tetap dapat menontonnya secara daring. Selamat menonton!

Ditulis Oleh Ken Penggalih

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lain

Skip to content