Beragam Cara Memaknai ‘Sumpah Pemuda’

89 tahun lalu, pemuda dari berbagai daerah berkumpul untuk mengikuti Kongres Pemuda II yang menghasilkan putusan kongres, bukan Sumpah Pemuda yang selama ini kita kenal. Kata Sumpah Pemuda justru muncul pertama kali 29 tahun setelah Kongres Pemuda II dilaksanakan. Saat itu, Soekarno melaksanakan peringatan Sumpah Pemuda dalam skala yang cukup besar. Sumpah Pemuda kemudian dimanfaatkan menjadi alat kampanye Soekarno untuk meredam berbagai pemberontakan di daerah.

sumpah pemuda2

Melihat Sumpah Pemuda mampu menimbulkan semangat persatuan dan kesatuan, kampanye Sumpah Pemuda dilanjutkan pada tahun 1961 dalam perjuangan merebut Irian Barat. Lalu tahun 1963, Sumpah Pemuda adalah pengingat bahwa perjuangan melawan rencana membentuk Federasi Malaysia. Sumpah Pemuda juga digunakan untuk menangkal simbol-simbol budaya Barat yang popular tahun 1959 yang dianggap bakal merusak budaya Indonesia. Intinya, Soekarno memanfaatkan dengan sangat baik tiga poin dalam Kongres Pemuda II, yaitu bertanah air, berbangsa, berbahasa satu: Indonesia, untuk menimbulkan semangat persatuan dan meredam pemberontakan di daerah-daerah.

Sumpah pemuda1

Semasa presiden Soeharto, mempunyai cara sendiri untuk memaknai Sumpa Pemuda, melanjutkan sebutan Sumpah Pemuda namun dengan semangat dan tujuan yang berbeda. Soeharto memanfaatkan Sumpah Pemuda untuk mendukung pemerintahannya yang mengutamakan disiplin, stabilitas, dan keamanan. Alhasil, pendekatan kekerasan digunakan pada siapa saja yang coba mencari arti lain dari ‘persatuan dan kesatuan’. Pada era ini juga, banyak dilakukan kajian terkait sejarah Sumpah Pemuda, salah satunya adalah karya B. Soelarto, Dari Kongres Pemuda Pertama ke Sumpah Pemuda (1986), yang berisi kumpulan peristiwa sejarah antara kongres pertama (1926) dan kongres kedua (1928).

Kini, setelah Soeharto jatuh, Sumpah Pemuda diarahkan untuk menghargai berbagai perbedaan yang ada di Indonesia. Terutama karena setelah jatuhnya Soeharto, terdapat kerusuhan antar entis di beberapa daerah. Selain itu, perdebatan tentang perlu tidaknya Sumpah Pemuda dirayakan juga mulai muncul, terutama di media sosial. Kebebasan dalam mencari informasi membuat setiap orang bebas memaknai Sumpah Pemuda, tanpa harus dicekoki lebih dulu oleh pemerintah.

Nah, kalo kamu sendiri, bagaimana memaknainya?

Share This
Scroll to Top
5 Inklusif

Tetap Terhubung!

Berlangganan Nawala Kami untuk mendapatkan kabar dan informasi terbaru.