Dalam Penjara Tetap Ada Asa

Ada narasi yang tidak diketahui banyak orang saat membicarakan tragedi 1965. Biasanya yang ada di benak orang adalah peristiwa pembunuhan enam jenderal dan seorang perwira yang terjadi di penghujung bulan September. Tapi, banyak orang yang lupa bahwa setelah kejadian tersebut ada tragedi lebih besar yang terjadi hampir di seluruh Indonesia. Pemerintah dan militer lewat tangan-tangan warga sipil juga paramiliter menangkapi, menghilangkan, memenjarakan tanpa peradilan serta membunuh jutaan orang yang diduga berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Di sebuah sore beberapa minggu yang lalu, saya dan beberapa teman bertemu dengan penyintas 65 dan keluarga korban pelanggaran HAM lainnya. Saya berkesempatan mengobrol dengan Utati Koesalah, istri dari Koesalah Subagyo Toer. Ia adalah salah satu korban penangkapan dan pemenjaraan tanpa pengadilan yang terjadi setelah peristiwa G30S.

Di usianya yang sudah menginjak 73 tahun ia terlihat masih bersemangat mengikuti pertemuan dengan para penyintas 1965/66 lain. Padahal dari rumahnya yang berada di luar Jakarta, ia harus naik kereta kemudian disambung dengan metromini. Ia menyebut diri masuk dalam kategori 3N. Waktu saya tanya apa kepanjangannya, ia menjawab “nenek-nenek nekat,” sambil tersenyum.

Utati pindah dari daerah kelahirannya Purworejo dan pergi ke Jakarta karena ingin mengejar keinginannya untuk berkesenian. Jika anak muda generasi sekarang mengasah kemampuan seninya lewat klub kesenian, les melukis, menyanyi, menari, dan sebagainya, tak berbeda jauh dengan saat Utati remaja yang mencari cara untuk menyalurkan bakatnya. Waktu itu ia memilih ikut organisasi pemuda bernama Pemuda Rakyat. Organisasi ini sering mengadakan kegiatan kesenian dan teater. Sayangnya, saat aktif dalam organisasi itu, tepatnya pada 1967 ia ditangkap dengan alasan Pemuda Rakyat berafiliasi dengan PKI.

Hari-hari remajanya harus berhenti karena penangkapan itu. Sampai saat ini kesan yang sangat kuat tentang masa-masa di penjara masih tersimpan di dalam hatinya. Ia ingat sesama penghuni penjara perempuan biasanya saling menguatkan. Perempuan-perempuan dalam rumah tahanan Bukit Duri tempat Utati menghabiskan 11 tahunnya tetap punya mimpi untuk melanjutkan hidup. Kehidupan di penjara sangat membosankan, satu-satunya hiburan adalah bernyanyi. Beberapa teman termasuk dirinya menciptakan lagu selama masa tahanan.

Di penjara, bacaan tahanan sangat dibatasi. Hanya buku bertema keagamaan yang boleh dibaca. Mereka bahkan tidak dapat menulis. Maka ia harus sembunyi-sembunyi ketika berusaha mengumpulkan syair dan lirik lagu-lagu yang sering dinyanyikan di penjara. Sebelumnya, ia hanya mengingatnya dalam kepala.

Ia mulai menyembunyikan bekas bungkus teh yang bagian belakangnya polos, juga mencari pensil. Kadang ia menemukan pensil yang hanya tinggal seujung jari. Dengan dua benda itu ia menulis lirik dan partitur lagu. Supaya tidak ketahuan, ia menyembunyikannya di dalam sapu ijuk. “Walaupun berada di bawah tekanan kita harus mencari cara,” ujarnya. Hal ini membuat tahanan menjadi lebih kreatif untuk bertahan.

Berpuluh tahun setelah bebas ia tak pernah meninggalkan kecintaannya pada kesenian. Pada 2011, ia turut mendirikan kelompok paduan suara Dialita. Namanya merupakan kependekan dari ‘Di atas Lima Puluh Tahun’. Saat ini aggota Dialita berjumlah 20 orang yang terdiri dari penyintas ‘65 yang rata-rata berusia di atas lima puluh tahun dan sebagian anggota lainnya keluarga korban serta mereka yang bersimpati dengan kejadian tersebut.

Dialita menyanyikan lagu yang sebagian besar diciptakan komponisnya saat berada di penjara dan pengasingan. Ada yang ditulis di rumah tahanan Plantungan, Bukit Duri, kamp Ambarawa, maupun penjara Salemba. Kehadiran Dialita sering dianggap sebagai salah satu upaya untuk merekonsiliasi secara kultural beban masa lalu—terutama tragedi kemanusiaan yang pernah terjadi di Indonesia di tahun 65/66.

Setahun yang lalu, tepatnya pada 17 Agustus Dialita merilis album berjudul Dunia Milik Kita di bawah label Yes No Wave Music. Sampul albumnya didominasi warna biru muda dan hijau. Ada gambar berbagai tanaman hijau yang ternyata adalah sayur yang sering dimakan tahanan selama di penjara, seperti tanaman genjer, pegagan, dan sebagainya.

Di sela-sela obrolan kami tentang lagu-lagu di dalam penjara, Utati bergumam sambil mengingat-ingat sebuah lirik lagu. Ia ingin memperdengarkan pada saya lagu yang dinyanyikan bagi tahanan perempuan saat berulang tahun. Biasanya para tahanan berkumpul di depan sel orang yang berulang tahun itu dan bernyanyi bersama. Judul lagu itu ‘Tetap Senyum Menjelang Fajar’.

Harapanku padamu teman / Semoga kau tetap tegar / tertimpa sinar maupun hujan / Tetap senyum menjelang fajar

Utati adalah salah satu penyintas ‘65 yang pernah saya temui dan ajak mengobrol bersama. Saya beruntung bisa bertatap muka dan mendengar cerita mereka langsung. Waktu masih duduk di bangku sekolah, saya tak pernah berpikir bagaimana kehidupan mereka di masa-masa yang penuh penderitaan itu. Bahkan sebelum pikiran saya ‘terbuka’ di awal-awal masa kuliah, saya tidak tahu kalau kejadian seperti itu ada. Kepala waktu itu saya masih dipenuhi kengerian G30S dan kebencian terhadap mereka yang dianggap bertanggung jawab terhadap kejadian tersebut. Sekarang, sebagai generasi muda yang melek informasi, tentu saya ingin lebih banyak membaca narasi-narasi lain tentang kejadian sejarah di masa lalu.

Share This
Scroll to Top
5 Inklusif

Tetap Terhubung!

Berlangganan Nawala Kami untuk mendapatkan kabar dan informasi terbaru.

Skip to content