Ah, Lagi-Lagi Harus Belajar Konsen

Berkaca pada kasus Agni, agaknya kita lagi dan lagi harus terus mengingatkan diri sendiri, dan juga orang lain (sekadar mengingatkan ala-ala netizen) mengenai konsen. Ironis memang bahwa belum semua orang paham terhadap konsep ini. Bagi kamu yang memang belum tahu apa itu konsen, kata lain yang dapat menggantikan kata ini adalah persetujuan. Jika kamu sedang kuliah, mungkin acap kali berhadapan dengan benda bernama informed consent atau lembar persetujuan. Informed consent adalah sebuah dokumen yang dibuat untuk meminta persetujuan orang lain saat (biasanya) melakukan penelitian. Dokumen ini berupa satu lembar pernyataan bahwa orang tersebut bersedia untuk memberikan informasi demi kepentingan penelitian. Di sisi lain, pihak pengambil informasi menjanjikan untuk tidak menyebarluaskan informasi yang didapat untuk kepentingan lain di luar penelitian. Nah, harusnya sih, sebagai orang yang sedang kuliah, mas HS (pelaku pelecehan seksual kepada Agni) mengerti konsep konsen. Tapi sayangnya, mas HS sepertinya hanya mengikuti hawa nafsunya, alih-alih bertanya dulu.

Kisah Agni ditulis beberapa media sebagai berujung “damai” yang terdengar dipaksakan oleh pihak kampus. Mungkin agar “nama baik” kampus tidak tercoreng. Duh, UGM.

Tetapi kamu juga harus tahu kalau Agni tidak berdamai! Penandatanganan kesepaakatan tersebut merupakan kesepakatan penyelesaian non-litigasi atau penyelesaian sengketa alternatif yang prosedur penyelesaiannya di luar pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi, dan mediasi.

Mari kita telaah makna konsen dengan konsep yang lebih mudah dipahami. Anggap saja kamu adalah seorang penjual bakso. Tentu kita cukup tahu bahwa ada setidaknya dua jenis bakso yang beredar di negara ini, bakso urat dan bakso telur. Ada juga bakso dengan isi-isi kekinian yang hype-nya sebatas maksimal satu tahun, kadang kurang. Katakanlah bakso isi keju, isi cabe rawit, brokoli, atau apalah. Muncul sangat populer, itu pun kalau harganya tidak terlalu mencekik. Tapi mari kita kembalikan fokus kita pada kisah yang saya coba contohkan. Sebagai seorang penjual bakso tentu kamu tidak langsung menyodorkan salah satu jenis bakso pada pelanggan kamu. Belum tentu dia suka bakso urat jika kamu berniat menyediakan bakso urat buat dia. Bagaimana kamu tahu kalau dia tidak suka bakso urat? Sederhana. Tanya dulu. Apa yang diinginkan pelanggan, bakso urat atau bakso telur. Saat pelanggan memilih salah satu, barulah kamu siapkan bakso pilihannya.

Alur cerita akan menjadi sedikit rumit ketika bakso pilihan pelangganmu ternyata habis. Di waktu inilah yang tepat untuk menanyakan persetujuan pelanggan kamu. Apakah dia setuju untuk membeli ragam bakso yang lain? Jika dia tidak setuju dan tidak jadi beli bakso, kamu sebagai penjual tidak bisa memaksakan diri untuk tetap menjual bakso yang bukan pilihannya. Kata lainnya, pelanggan tidak memberikan konsen bagimu untuk menyiapkan bakso yang bukan pilihannya. Mari kita ulang. Kalau pelanggan bilang TIDAK, maka kamu sebagai penjual TIDAK menyiapkan bakso yang tidak ia mau. Kalau pelanggan bilang IYA, maka barulah kamu dapat menyediakan bakso tersebut.

Sederhana bukan?

Dari banyak kasus pelecehan seksual yang terjadi, di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, dengan korban paling banyak adalah perempuan, alasan paling banyak yang dipakai untuk tetap menyalahkan korban adalah karena pakaian korban “mengundang”. Sangat lucu memang. Terkadang membuat hati membara. Ini ekuivalen dengan kisah kamu sebagai penjual bakso yang tetap menjual bakso yang bukan pilihan pelanggan kepada orang tersebut, memaksa ia untuk membayar bakso tersebut dengan alasan “muka pelanggan menyiratkan keinginan untuk makan bakso itu”. Sudah sangat kuno untuk membela diri sebagai peleceh seksual dengan alasan pakaian korban terlalu mengundang. Ingat, jika orang TIDAK bilang, maka bukan berarti dia mau. Kalau kita berbicara tentang undangan, lantas mana undangannya yang menyatakan kamu bisa melecehkan orang lain karena pakaiannya? Dicetak atau disebar lewat Whatsapp? Mohon sediakan undangannya di pengadilan.

Begitu ya mas HS dan pelaku pelecehan lainnya. Tidak susah kan untuk menjadi manusia yang baik? Mungkin Al-Quran dan Bibel atau kitab-kitab lain terlalu tebal bagi manusia untuk mengajarkan kita agar tidak menjadi manusia brengsek. Dan, bagi orang-orang yang tetap membela diri untuk pura-pura tidak mengerti dengan bilang “konsep konsen sulit dipahami”, silakan baca ulang tulisan singkat ini.

Share This
Scroll to Top
5 Inklusif

Tetap Terhubung!

Berlangganan Nawala Kami untuk mendapatkan kabar dan informasi terbaru.