Anak Muda dan Hari Kebenaran di Indonesia

Maret 28, 2018 by admin in Rubrik Artikel
Anak Muda dan Hari Kebenaran di Indonesia

Hingga hari ini masih banyak kasus pelanggaran berat  HAM yang belum dituntaskan oleh negara. Mulai dari jutaan korban pembantaian dan penahanan pasca 65, korban jiwa di kerusuhan Malari dan Tanjung Priok, belasan aktivis mahasiswa yang diculik dan dihilangkan paksa, hingga kriminalisasi terhadap masyarakat yang memperjuangkan haknya.

Masih banyak korban dan keluarga korban yang memperjuangkan haknya sebagai warga, namun sayang negara tetap abai dan menutup mata. Negara tidak menganggap pengungkapan kebenaran menjadi hal yang penting. Negara tidak menganggap perlu untuk mengangkat martabat korban pelanggaran berat HAM yang selama ini hidup penuh stigma dan diskriminasi.

Hal ini berbanding terbalik dengan pernyataan Presiden Joko Widodo yang berulangkali berjanji akan menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu. Dalam upaya pemenuhan janji tersebut, bahkan presiden memasukannya dalam rumusan Nawa Cita visi misi pemerintahan Indonesia. Akan tetapi fakta menunjukan hal berbeda, pemerintah malah ingkar atas janjinya untuk menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu, bahkan pengingkaran ini diwarnai dengan agresivitas institusi keamanan, seperti pelarangan dan pembubaran paksa berbagai inisiatif pengungkapan kebenaran yang diinisiasi secara mandiri oleh komunitas korban dan organisasi masyarakat sipil.

Padahal permasalahan pengungkapan kebenaran dan mengangkat martabat korban pelanggaran berat HAM sudah menjadi fokus komunitas internasional, melalui pembentukan Hari Kebenaran Internasional atau International Day for the Right to the Truth Concerning Gross Human Right Violation and for the Dignity of Victims oleh Majelis Umum PBB yang diperingati setiap tanggal 24 Maret.

Hari Kebenaran Internasional ini dibentuk sebagai upaya penghormatan atas tewasnya Uskup Agung Oscar Arnulfo Romero, seorang pejuang HAM dan keadilan sosial, oleh pasukan pemerintah El Salvador pada tanggal 24 Maret 1980. Peringatan ini menjadi upaya komunitas internasional untuk tidak hanya mengenang dan menghormati korban-korban pelanggaran HAM berat, tetapi sebagai daya gerak untuk mempromosikan pentingnya hak atas kebenaran dan keadilan.

Urgensi akan hak atas kebenaran dan hak atas keadilan ini bahkan ditekankan oleh Sekretaris Jenderal PP, Ban Ki-moon, yang mengatakan bahwa “hak atas kebenaran sangatlah esensial bagi korban dan masyarakat secara seutuhnya. Mengungkapkan kebenaran pelanggaran HAM masa lalu dapat membantu pencegahan pelanggaran HAM di masa depan.” Sehingga tidak ada alasan untuk memandang sebelah mata peringatan Hari Kebenaran Internasional.

Menurut Ketua KKPK (Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran) Kamala Chandrakirana memperingati Hari Kebenaran Internasional sangat penting untuk mengingatkan masyarakat bahwa kebenaran masih sangat jauh dari tangan masyarakat. Selain itu, melalui peringatan Hari Kebenaran Internasional, masyarakat juga bisa mendorong negara untuk memenuhi hak atas kebenaran dan hak atas keadilan bagi masyarakat karena negara memiliki tanggung jawab serius untuk hal itu.

Namun sayangnya, tidak seperti hari-hari besar internasional lain di Indonesia, Hari Kebenaran Internasional masih tidak diketahui secara luas di masyarakat. Media sosial tidak ramai ketika tanggal 24 Maret, karena masih banyak anak muda yang tidak tahu adanya peringatan ini. Sehingga penting untuk kita yang mengetahui, terus menyebarkannya dan membuat banyak orang mengetahui bahwa masih banyak kebenaran yang belum terungkap di Indonesia.

Bagaimana pun, anak muda adalah harapan yang nantinya menjadi penggerak peradaban. Seperti yang diungkapkan oleh Kamala Chandrakirana, “kami menaruh harapan di pundak generasi muda, karena kami sudah melihat bagaimana lembaga resmi kita mandeg, juga banyak aktor politik yang memanfaatkan persoalan pelanggaran HAM masa lalu untuk kepentingan dirinya sendiri, bukan kepentingan pengungkapan kebenaran ataupun keadilan. Artinya, perjuangan ini akan jalan terus untuk tahun-tahun kedepan, sehingga kita harus berjalan bersama generasi muda, yang memiliki nafas panjang untuk perjuangan ini dan memperbaiki peradaban.”

 

Credit foto: Kumparan/Aditia Noviansyah

Leave a Comment!

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

70-243  , 000-105  , CISM   c2010-657   PMP   300-206  , 640-692   300-115   400-201   C_TFIN52_66   1z0-808   300-115   210-060   70-463   70-412   300-320   220-902   1Z0-060   350-080   9L0-066   350-080   000-089   CCA-500   210-060   642-732   300-115   3002   70-487   JK0-022   M70-101   350-060   HP0-S42   1Z0-051   642-732   810-403   1z0-434   70-410   350-080  , 102-400   220-902   JN0-102   000-106   70-480   SSCP   1Z0-051  , MB2-704   200-120   70-532   LX0-103   400-101   220-802   70-410  , 300-206   300-208   000-104   70-534  , 70-980  , 350-018   640-916   70-488   200-310   200-125  , 70-462   300-070   70-534   70-980   JK0-022   C_TFIN52_66   2V0-621   220-901  , 200-125  , 1Z0-061   70-532  , 70-347   CRISC   000-017   350-030   PMP  , JN0-102   70-413  , 70-461   3002   EX200  , 100-101   300-208  ,

Back to Top